Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Sepakbola, tidak hanya Messi dan Ronaldo

Tidak hanya Ronaldo dan Messi

... Wer Fremde sprachen nicht kennt,
welss nichts von seiner eigenn,
Johan Wolfgang Von Gothe
Dengan tubuh setinggi 169 cm, pria argentina ini meliuk dihadapan raksasa raksasa. Dengan bola lengket di kakinya, ia terus melatih para raksasa raksasa sebesar arnold mencuri bola di kakinya. Lionel Andress Messi, pria berumur 26 tahun yang lalu. Tak ada yang menduga, 15 tahun yang lalu, harapanya hampir direnggut virus ganas, seandainya Jorge Messi, ayahnya tak bersedia menjadi buruh Baja dI barcelona dengan gaji pas pasan. Tak ada yang menduga, satu dasawarsa kemudian ia menjadi Zeus di taman Sepakbola Eropa.
Satu kisah menarik lagi, seorang pria kekar, sekuat Terminator, dan secepat Ferrari, turun dalam gelanggang sepakbola eropa. Cristiano Ronaldo, pria 28 tahun. Hampir sama dengan Messi, dulu ia hanyalah kaum papa yang terisolir dibukit Funcal, Portugal. Ferguson, manager MU waktu itu, melihat jiwa petarung Ronaldo ketika ia terbang menyisir sisi lapangan Lisboa dengan kecepatnya. Jadilah sekarang ia salah satu Gladiator terkuat di Eropa.
                Kisah Ronaldo dan Messi memang sebuah dongeng, tapi dongeng yang aktual dan terus berkembang. Dua nama ini selalu menjadi perbincangan panas dunia Sepakbola, tidak lain karena persaingan keduanya, antara kaki kiri dan kanan, antara Barcelona dan Real Madrid, antara Eropa dan Amerika Latin, antara Tinggi dan Pendek, atau antara dewa dan manusia. Semuanya adalah oposisi binner dalam dunia sepakbola.
                Namun terkadang, kultus terhadap dua makhluk sepakbola itu malah memberi pemahaman tentang sepakbola yang degradatif. Pemahaman degradatif ini dimotori oleh bumbu persaingan dari media yang mencoba memanasi keadaan, sehingga taqlid dalam dunia sepakbola malah mengahadirkan iklim sepakbola yang degradatif dan rawan konflik.
                Taqlid ini sebenarnya tidak hanya seputar Ronaldo dan Messi saja, jauh dari hari ini, sebelum terkudetanya Mursi, mesir menjadi sorotan karena kerusuhan sepakbolanya yang membuat 74 orang tewas, jauh sebelumnya di negara sepak bola, Inggris, tragedi Heysel masih membayangi  benak pecinta bola ketika suporter Liverpool beradu dengan  Suporter Juventus yang membuat 39 orang meregang nyawa.
                Terlebih Indonesia, bumbu persaingan dan kuatnya ikatan primordial masih membuat taqlid tersimpan dalam dada pecinta sepakbola Indonesia. Tidak sedikit kasus yang membuat pecinta sepakbola menjadi bertemu tuhanya, kasus Bonek kontra Aremania, kasus Pasoepati vis a vis Slemania, rivalitas Jack Mania dengan Bobotoh menjadi contoh masih adanya semangat Taqlid baik bermotif ikatan primordial maupun konflik historis.
Melihat kejadian demikian tiap waktunya, membuat siapapun jenuh. Karena sejatinya Sepakbola tidak hanya tentang pertarungan Messi dan Ronaldo, lebih dari itu, sepakbola tidak hanya berbicara aroma kompetisi dan pertarungan sengit. Konsep taqlid dan rigid dalam ajang saling sikut menambah keruh suasana, akibatnya nihilisme moral membuat desakralisasi nilai nilai luhur sepakbola.
Yang parah lagi adalah sekarang sepakbola menjadi ajang pamer kekuatan syahwat dan kekuasaan. Tidak mafhum di era ini kaum bourjois dan Parlente siap gelontorkan jutaan dolar demi meraih ambisi prestise dan tentu tidak sekedar bep.Instrumen Sepakbola menjadi senjata baru persaingan di era global ini.
Humanisme Sepakbola
Meski demikian, Sepakbola adalah transfer nilai nilai keluhuran humanisme, sepakbola mengajarkan egaliter, persaudaraan, perdamaian, non rasisme dan sikap dan ekspresi nilai luhur lainya. Hal ini tentu jauh berbeda dengan konsep Taqlid dan kultus dalam dunia sepakbola, entah dasar primordial, historis, ataupun syahwati.
Diatas lapangan tidak ada pemain yang diistimewakan, semua punya status yang sama, ialah pemain sepakbola, tidak ada kultus maupun taqlid yang sering dielukan diluar lapangan. Baik Messi maupun Ronaldo, tidak pernah berharap para penyembahnya bertempur maupun balas hina dan caci maki. Mereka berharap Sepakbola berkontribusi dalam era pembangunan dengan menanamkan nilai nilai humanis tadi.  
                Dengan demikian benar apa yang diungkapkan Goethe, seorang pujangga jerman, bahwa mereka yang tidak mengetahui bahasa asing, berarti tidak mengetahui bahasa sendiri diri sendiri. Goethe mengajak kita tidak parsial, sektoral, dan primordial dalam memandang entitas kelokalan maupu keakuan diri. Lebih dari itu ia mengajak kita mendalami keragaman dan pluralisme kehidupan.

                Dari situ kita bisa mengambil sikap, bahwa dalam pentas sosial yang diisi kultus yang berefek Taqlid malah berpotensi konflik dan melukai substansi entitas kelokalan itu sendiri. Termasuk dalam Sepakbola, bahwa ternyata tidak hanya ekspresi kita saja yang mampu ditangkap indahnya sepakbola, ekspresi dari individu lain pun mampu diwadahi sepakbola. Sehingga Messi dan Ronaldo bukanlah Legenda yang harus dikultuskan sosoknya, mereka adalah instrumen sepakbola yang membawa nilai nilai humanisme luhur Sepakbola.

Senin, 12 Agustus 2013

AKU YANG TERSADAR DAN BERGERAK (Peluru itu bernama KAMMI – Part 1)


              Langit masih gelap, tepatnya mendekati pagi. Lantunan muadzin menyerukan kemenangan untuk mengahadap sang illah mengemuka. Aku masih dalam dekapan selimut biruku, aku berjudi malam tadi tidak berbantal selimut, karena kurasa malam itu kurasa amatlah dingin. Lantunan adzan selesai, aku mencoba terlelap kembali. Kondisi fisik yang tereduksir memaksa kasur tipisku melambai untuk bercumbu denganya di sisa pagi ini, kuturuti saja. tidak lama, alarm HP ku kembali berbunyi memanggilku untuk tinggalkan alam mimpi.
                Cepat dan singkat, setelah tengadah beristighfar pada Illah ku. Aku bergegas mandi. Terasa ganjil memang, karena biasanya mandi pagiku ketika mentari sudahlah tinggi, kali ini ia belum nampak tersenyum padaku, aku sudahlah bercengkrama dengan segarnya air pagi. Maklum, hari ini aku harus pulang menuntaskan rasa rinduku ke Pemalang. Kota kecil di Pantura, kota yang dianggap mati, namun masih berpenghuni.
                Aku melambaikan tangan di pinggir jalan, sebuah bus hijau mendekat memberi sinyal akan menepi menjemputku. Sekitar 6 jam berlalu, pantatku mengakrabi bangku bus. Ongkos hampir tujuh puluh ribu sudah aku keluarkan dari kocekku untuk mengganjar rasa rinduku pada kampung halaman. Sampailah aku di Randudongkal,  kota kecil destinasi terakhir sebelum kakiku menginjak tanah desaku.
                Seorang pria tua dengan sepeda inventaris kantornya menepi, kaca helm hitamnya menutupi wajahnya. Celana diatas lutut yang ia kenakan berwarna putih seragam dengan kaos bulutangkisnya yang berkerah. Ia adalah ayahku, pria 50 tahun yang telah 20 tahun ini memberiku kasih sayang rela menempuh satu kilo menjemputku. Aku tersenyum dan langsung memboncengnya, dan berlalu meninggalkan randudongkal ini.
***
                Hari itu hari minggu, karibku, Nendy mengajak aku Liqo. Pria ini memang fenomenal di desaku. Ia sudah mempunyai tiga anak, dan sudah dua kali menikah. Dari tampangnya ia memang masih muda dan baby face, tak nampak di pundaknya tersemat tanggung jawab berat. Ia bekerja di sebuah bengkel mobil, padahal latar belakanganya tamatan SMA jurusan Bahasa. Namun yang ia punya ialah tekad yang kuat, sebelum di bengkel ia juga bekerja di bengkel las.
                Sore yang cerah itu, ia mengajak kembali aku Liqoan, semacam majelis melingkar yang mempertemukan kami dengan murabbi , yang bertugas menyampaikan materi dakwah. Tentang Liqoan ini aku sudah memulai sejak SMP, berawal dari ketidaksengajaan sebuah minggu pagi yang cerah ketika si kulit bundar akrab dengan kaki telanjangku, aku diajak teman mengunjungi “pengajian” katanya. Aku nurut saja, dan dari itulah aku sudah mulai aktif didakwahi.
Liqoan kali ini Aku diajak nendy ke daerah belik, daerah yang lebih tinggi dari tempat tinggalku, sebuah daerah yang lumayan dingin dan berkrisis air. Namun hasil buah nanasnya terkenal sekolong nusantara, tak heran beberapa minggu yang lalu, koran kompas sempat singgah di kota belik indah nan sejuk ini. Dan tak lupa Jaket tebal pun aku siapkan menuju tempat ini.
                Sesampai disana, ternyata kami datang terlambat. Kami disambut anggota liqoan yang baru, ia bernama saefudin. Mantan TKI di jepang yang melanjutkan Liqoan di negeri sakura. Pengalaman di pabrik otomotif dan beberapa segmen kehidupan di jepang, termasuk pendakian ke gunung fuji dan budaya disiplin ala nippon membuat wawasanku semakin luas dan lengkap.
                Di akhir acara lIqo ini, aku tidak bisa menyembunyika rasa galauku selama ini. Aku ingin mempunyai peluru lagi, aku tidak ingin mensiasiakan peluru yang telah kubuang. Namun aku tidak ingin sembarang memilih peluru, jangan sampai aku malah mendapat bumerang. Dengan sedikit malu, aku dengan malu bertanya pada murabbiku,” dad, organisasi yang paling baik apa, IMM apa HMI?”. Kebetulan di Fakultasku, basic HMI lumayan kuat. Sehingga nama organisasi tua ini tidak asing di telinga ini.
                “jangan IMM, mending HMI saja”, ujarnya singkat. Aku hanya mengamini saja, dan terus berpikir ini mungkin jawaban yang final dari pencarian peluru peluru baruku yang siap dilesakkan. Aku pun sudah menyimpan jawaban ini, kebetulan aku juga dekat secara personal dengan kakanda kakanda HMI, dan pada akhirnya aku, sami’na wa ato’na.
                Sebelum menyentuh hari H keberangkatanku ke Solo, sore itu kampungku ditelan hujan yang lumayan deras. Sayup Adzan Maghrib memanggilku ke Mushalla, segelas kopi dan sebuah film separuh rampung kutinggalkan di ruang tamu. Menunggu iqomah, sesosok pria bercelana training menggunakan hem krem duduk disebelahku, Lukman namanya, jenius otaknya, dan sederhana penampilanya.
                Sepertinya satu desa tidak ada yang ingkar tentang kejeniusan Lukman. Mengingat penilaian jelata hanya melihat dari jenjang pendidikanya saja, dan kebetulan di desaku ini hanya lukman yang sedang berkarier di Pasca Sarjana, gelar sarjana sudah bejibun jumlahnya. Dan memang lukman itu secerdas ayahnya, meski hanya jualan kelontong, masalah pengobatan dialah rajanya.
                Ada hal yang cukup menggelitik di hatiku, apa salahnya bertanya  padanya, pertanyaan yang kulontarakan pun sama dengan yang kulontarkan pada Murabbiku, namun suara yang halusnya mengubah persepsiku. “mending ikut KAMMI saja, kalau kamu pengen nglanjutin (Liqoan)” ujarnya. Dalam benakku, aku hanya melewatkan jawabanya ke telinga kiri, karena aku telah siap dengan Slogan Yakusa.
                Tepat sore sebelum aku mengemasi barang dan menuju kota bengawan, Nendy seperti biasa mengahampiriku untuk berangkat Liqoan. Seperti biasa kami harus menuju dataran yang lebih tinggi dari daerah kami. Maklum kami harus mengalah pada peserta lain, karena mayoritas berasal dari daerah tersebut, termasuk juga murabbiku. Namun kuakui ia lebih flesksibel, kemanapun kami berkonsesi tempat untuk Liqo ia hanya mengangguk saja.
                Murabbiku seorang Guru SD, namanya Sofana, ia juga teman dari ibuku sesama pengajar sekolah dasar. Pola interaksi kami tentu lebih akrab lagi, sekilas dari hidupnya memang menarik, beristri satu dan beranak 6 dan juga berpotensi menambah lagi membuatku kagum, dengan mengurus anak sebanyak itu, ia masih harus bolak balik mengisi kajian kajian dakwah. Istrinya pun tak kalah jauh semangatnya dalam ikut berdakwah pula.
***
                Kami tiba dengan sambutan adzan maghrib, liqoan mereka terhenti ketika kami datang. Dengan salam dan senyum ramah, kami disambut salam dan senyum yang tak kalah ramah pula. Namun karena sayup iqamah telah memanggil, liqoan pun terhenti sejenak, kami menuju mushalla yang ada di sebelah barat tempat liqoanku.
                Selesai shalat kukira materi inti yang akan disampaikan sang murabbiku. Ternyata, forum sudah selesai dengan forum intinya, tinggalah acara basa basi dilanjutkan. Tidak seperti materi utama yang kadang terlalu formal dan kaku, forum basa basi lebih menjurus ke hal hal yang lebih enteng untuk dibicarakan. Mulai dari bisnis, jodoh, pekerjaan, Partai Politik dan sebagainya. kuakui aku termuda dalam forum itu, maklum semua berstatus pekerja, aku masih mahasiswa. sehingga lawan diskusiku yang menjurus ke ranah akademis sulit kutemui termasuk murabbiku.
                “Oh ya zal,terkait pertanyaan kamu kemarin tentang organisasi yah?” tanya murabbiku sambil menyeruput teh.
                “oh ya Tadz bener” ujarku menimpali seraya mengunyah tempe goreng yang tersedia.
                “Kemarin  aku sudah konsultasi, lebih baik kamu ikut Kammi”
***
                Ditulis di Tepian Malam,
                Sukoharjo, 23 Juli 2013

                Faizal Adi Surya, Penikmat Kuliner Ketan

Kamis, 08 Agustus 2013

Aku yang tersadar dan bergerak (degradasi di awal laga)


                Matakumasih melek memandang lukisan di tembok yang tiada berbentuk rupa. Aku barusaja tersadar dari kesementaraan maut. Aku mencoba meraih ponsel kesayanganku, ternyata waktu menunjuk 05.38artinya aku meninggalkan waktu hampir satu jam untuk berkelana di alam ilusi,daripada menghadap dan bercengkrama dengan illahku.    Segerasaja kubergegas mengidupkan saklar sanyo dan mengambil air wudhu, dengan cepataku menyambar percikan air yang mengucur dari kran yang telah separuh berkarat.Sajadah kugelar, kulipatkan dan kulilitkan sarung kumal di pinggangku, segerakukumandangkan takbir lirih yang suaranya kalah keras dan tegas dari kicauanpipit pipit pagi.
Sahabatbisnis.com
                Seusaisalam, kutoleh ke gumpalan kasur tipisku, tanpa bantal dan tanpa guling. Hanya saja untuk menikmati ganjalan empuk di kepala terkadang kulipat satu satunyaselimut biruku dengan korban sekujur tubuhku diserang udara malam. Tanpamenunggu waktu lama, langsung kusambar selimut biruku dan kunikmati“kesementaraan” maut itu.
***
                Hariini adalah hari pertamaku memulai sebuah kehidupan baru. Setelah malamsebelumnya, meminjam sebentar tulisan saudaraku tercinta, seorang mahasantriyang tidak diragukan tulisanya, yaitu pembantaian intelektual. Sebuah malamyang kurasa cukup dinamakan sandiwara, kami terpaksa melayani puluhan ataumungkin ratusan pertanyaan pertanyaan yang aku sendiri menganggap ini sebagaiujian disertasi untuk mengejar gelar seorang doktor. Namun dibalik itu, akuyakin ini sebagai salah satu ke-khasan sebuah peradaban sebuah organisasi yangtelah melaihirkan puluhan orang berprestasi.
                Kehidupanbaru itu bernama LPM Pabelan atau secara singkat kunamakan Pabelan. Nama yangtelah terukir di benak hati ini, nama yang tak disangka dan tak diduga telahmenemani kehidupanku selama menikmati bangku kuliah ini sejauh ini. Aku merasadi Pabelan aku menemukan keindahan dan kesejatian.
                Sepertiumumnya manusia, seusiaku adalah usia yang dikatakan pencarian jati diri.Proses ini yang kualami sendiri, dua semester awal bergelut dengankeputusasaan, bergelut dengan keluh kesah, bermain dengan perasaan. Akuberkutat dengan sandiwara kehidupan, aku tak ragu untuk berkecimpung didalamnya, karena aku yakin akulah tokoh utama sandiwara itu, dan aku yakinsutradara kehidupan ini telah menyiaapkan sebuah cerita indah untuk hidup ini.Dan ternyata, setelah bercengkrama denganya, aku menjadi heran, karena akuberbicara dengan diriku sendiri.
***
Mundur satutahun, aku mencoba mengorek informasi dan data yang aku dapat dari indramakhluk dhaif seperti aku. Dan ternyataaku masih ingat degradasi dan dekadensi itu, sebelum program pengenalanakademik, aku disuguhi pengenalan terlebih dahulu bernama masta atau masataaruf, yang diselenggarakan IMM. Mungkin ini satu organisasi yang aku terlebihdulu kenal, aku pun mencoba bergabung dengan sayap merah ini. dikarenakan siMasa SMA aku cukup apatis dengan yang namanya organisasi, hingga kulampiaskansaja apa yang menjadi ambisiku.
Beberapa harikedepan, aku pun cukup antusias ketika dalam sebuah Display unit kegiatanmahasiswa dalam Program Pengenalan Akademik, satu persatu menunjukan keunikanmereka, aku hanya tertarik dua ukm yaitu resimen mahasiswa dan koperasimahasiswa. Alasan aku pun cukup unik, aku memilih menwa karena rasa frustasikutertolak PTN. Aku ingin menjadi Polisi, apalagi posturku memadai, menjulangdengan 172 cm dan badan tegap menjadi Modal dasar ayahku menyarankanku bergabung dengan UKM ini. Pun denganKopma, semangat wirausahawan begitu menggebu kala itu, dan iming iming materiyang memadai membuatku tertarik pada UKM ini.
                Begitumasuk ruang kelas untuk menerima materi selanjutnya, aku disuguhi display lagidari UKM tingkat Fakultas. Sebuah lembaga penerbitan atau Pers Mahasiswamembuatku tertarik. Tak lama aku mencantumkan nama sekaligus nomor HP pada formpendaftaran, aku yakin dengan empat organisasi yang kupilih, aku yakin bisamematahkan mitos kuliah dan organisasi bisa jalan seimbang, aku optimis dengansemuanya, meski tidak begitu sadar bagaimana kehidupan di kemudian hari.
***
                Seiringwaktu berjalan, aku ditunjukan sebuah sandiwara menarik kehidupan ini. menwayang menjadi Fokus utamaku harus kukubur dalam dalam. Sempat beberapa latihan,aku tertegun syarat menjadi anggotanya mengikuti pendidikan selama satu minggu.Dan tujuh hari bukanlah waktu yang sebentar, itu waktu akademik yang panjanguntuk melakukan hal yang lebih penting. aku pun mengurungkan niatku. Masih adatiga peluru yang kupakai untuk mengantar ke cita cita hidup ini.
                Kopmamenjadi destinasi tujuan berikutnya dari panggung sandiwara ini, diklat dasarmenjadi syarat utama menjadi anggota. Namun aku harus mengubur impian karenabertabrakan dengan agenda IMM yang aku ikuti. Padahal agenda yang kuikuti tidakbegitu penitng kuikuti. Dan harus kurelakan satu peluru telah kutembakan ke arahentah berantah. Dua peluru masih kukantongi untuk ketembakan secara tepatsasaran.
                Tepatpenghujung semester, aku dihadapkan pilihan penting DAD yang menjadi pintugerbang IMM harus berbenturan pula dengan Msuyker dari Justissica yang telahmenetapkan aku menjadi anggota. Aku harus legowo memilih Justissica untukmenjadi peluru terakhir harapanku menjalani sisa hidupku di Kota Bengawan ini.terlebih DAD berlangsung tepat waktu liburan kuliah, dan relatif lamadilaksanakan. Dibanding dengan agenda musyker yang memakan waktu satu harimembuat aku memilih musyker menjadi pilihan utama.
                Ternyataagenda musyker dibatlkan akibat ketidakhadiran anggota dalam kouta yangditentukan, aku pun cukup kecewa. Karena pelaksanaan kembali tepat setelah DADIMM berakhir, namun aku memilih pulang diantara waktu itu, aku genggam kangenyang selama ini kupendam, kupendar dengan menaiki bus menuju kota kelahiran,Pemalang Ikhlas.
***
                Singkatkata, peluru tinggal satu untuk hari ini, Justissica.  Apalagi Justissica mempunyai nakhoda baru.Aku semakin optimis menggapai hidup ini. namun ternyata disinilah fase burukitu dimulai. Namun, aku percaya abjad ini cukup kupendam dalam hati saja. tidaketis kurangkai menjadi chapter sebuahbagian hidup. Intinya fase ini aku mengalami derivasi dalam hidup. Baik secaramoral ataupun fisik.
                Selepasdari Justis aku masih dalam kesendirian, rasa optimis yang dulu berkobar kiniternyata disiram rasa pesimisme ego yang tinggi. Hukum rimba ternyata berlakujuga di dunia organisasi, siapa yang kuat dialah yang hidup dan merajai, denganusia yang masih belia aku masih rookie dalammenjalani kehidupan di level expert.Akibatnya empat peluru itu telah habis, untuk membidik sasaran yang salah. Akukehilangan asa lagi, pistol ini baiknya kusimpan saja, meski belum berkaratsemangatku telah runtuh mencari peluru lagi dan lagi.
                Akupunsemakin sungkan ngampus, terlebihbertemu kawan kawan yang sekarang berlabel aktivis. Aku kadang harus menundukankepalaku jika bertatap muka, aku merasa sendiri di kota bengawan ini, hanyakumiliki teman teman seangkatan kuliahku saja. Aku merasa gagal akibat ego ini.Aku semakin parno dengan organisasi yang telah membuatku hatiku ternganga danmenutup logika berpikirku. Aku sedang terluka dalam jurang kesepian, terkoyakmacan buas bernama ego. Tiap waktunya aku hanya bercumbu dengan kesunyian, akumerasa kesuksesan adalah utopia. Aku berharap langit segera turunkan hujanya,untuk redakan panas hati ini, dan segera saja aku berharap gunung hembuskanangin segarnya untuk dinginkan kepala ini.
                FaizalAS, penikmat kuliner Ketan
                Sukoharjo,21 Juli 2013

Kamis, 25 April 2013

MEMBANGUN ETOS KERJA PADA ORGANISASI



            Etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang didasari oleh sistem orientasi nilai budaya terhadap kerja. Maka secara umum pendapat beliau, etos didasari dari norma norma budaya yang melekat pada tiap individu, maka pada dasarnya etos itu berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri.
            Dalam berorganisasi, etos kerja sangat menentukan kinerja seseorang melaksanakan tuga dan kewajibanya. Jika ia dalam kondisi beretos tinggi, sangat besar kemungkinan banyak pekerjaan yang bisa terselesaikan dengan mudah, namun sebaliknya jika kondisi jiwanya dalam keadaaan etos kerja yang kurang maksimal, maka besar kemungkinan juga kinerjanya dalam melaksanakan tugas juga menurun.
            Banyak faktor faktor yang mempengaruhi etos kerja seseorang, namun secara garis besar hanya dibedakan menjadi dua saja, yaitu faktor dari diri seseorang atau Intern dan Faktor dari luar dirinya atau Ekstern.
            Faktor intern, adalah faktor yang ideal dalam membentuk etos kerja seseorang .Mulai dari motif, kecintaan, dan keikhlasan dalam melaksanakan tugasnya. Pada hakikatnya ialah segala sesuatu atau kehendak yang berasal dari dirinya.  Faktor ini memang bisa langsung dikaitkan dengan etos kerja itu sendiri, dimana etos kerja itu memang pada dasarnya berasal dari kemauan dan motif yang ada dalam diri seseorang untuk bisa menunjukan eksistensi etos kerjanya.
            Dalam hal ini, motif juga hal penting. Motif dalam berorganisasi, juga mempengaruhi kinerjanya. Misal motifnya adalah mencari keuntungan dari organisasi itu sendiri, ketika organisasi sudah mentok tidak bisa memberi posisi menguntungkan, bisa saja kinerjnya menurun, namun sebaliknya, ketika ia terus mendapat keuntungan materi, tentu kinerjanya berpotensi meningkat.
            Selain, itu yang tidak kalah penting ialah Faktor ekstern, atau faktor yang ada diluar kehendak seseorang dalam melakukan sesuatu. Faktor lingkungan dan atmosfir bisa menjadi hal yang tidak bisa dilewatkan. Lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung untuk bisa sukses bisa mendorong seseorang menunjukan etos kerjanya yang super, begitu juga dengan atmosfir kerja yang kompetitif, yang menghendaki persaingan. Malah melahirkan pejuang pejuang etos kerja yang handal.
            Hal ini berdasarkan studi empiris, terhadap beberapa peserta diskusi ketika menjalani proses belajar mengajar di sekolah dulu. Lingkungan yang kondusif untuk bisa sukses, menjadikan seseorang terpacu untuk maju, sebaliknya lingkungan yang cenderung negativ melahirkan etos kerja yang mandul. Atmosfir pun demikian, atmosfir yang kompetitif membuat seorang terpacu untuk bisa bersaing dan menang, dan atmosfir yang pragmatis dan kaku malah membuat etos semangat meredup.
            Secara logika, faktor Intern dan ekstern haruslah berhubungan dan berkaitan, dan juga berkesinambungan. Jika dalam hal ini menginginkan etos kerja yang baik, Motif seseorang yang membara jika ada dalam lingkungan yang kaku, malah membuat semangatnya padam. Resiko terpengaruh begitu besarnya, dan lingkungan yang kondusif serta atmosfir yang kompetitif tanpa adanya etos semangat dalam tiap individu menjadi sebuah ketidakmungkinan.

KODE ETIK JURNALISTIK



            Profesi berbeda dengan pekerjaan, jika pekerjaan, hubungan dengan pihak lain adalah vertikal atau atas bawah, misal buruh dengan majikan. Berbeda dengan profesi, alur atau pola dengan pihak lain adalah horizontal atau sejajar, tidak ada yang mendominasi, tidak ada majikan dan tidak ada buruh. Prinsipnya adalah keprofesionalan dan tidak ada yang saling mempengaruhi.
            Hampir sama dengan berbagai profesi yang ada, seperti Dokter, Advokat, atau seorang Psikolog. Jurnalis tentunya mempunyai sebuah kode etik. Sebuah kumpulan aturan aturan yang mengatur segala pekerjaan pekerjaan yang dilakukan jurnalis tiap harinya. Hal ini juga berlaku untuk profesi yang lain, Advokat memiliki UU No 3 tahun 2003 yang mengandung kode etik advokat itu sendiri.
            Kode etk jurnalistik berisi tentang norma norma seorang jurnalis dalam menjalankan pekerjaanya. Norma ini pada dasarnya berujud etika, yang mengatur tungkah laku para jurnalis dalam pekerjaan, ia adalah batasan batasan bagi para jurnalis itu sendiri dalam berbuata sesuatu.
            Pada dasarnya kode etik jurnalistik berhubungan juga dengan teknik reportase dari jurnalis itu sendiri. Karena kode etik tidak terlepas dari tindak tanduk para jurnalis dalam memperoleh data dari para narasumber. Kode etik adalah mekanisme formil dari para jurnalis dalam mengakses data dari narasumber.
            Namun dalam zaman serba materialisme ini, telah banyak terjadi pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik yang telah dibuat ini. salah satu penyebabnya, selain karena sempitnya masa deadline hingga menjadikan para jurnalis apapun caranya dan apaun hasilnya. Juga karena media mainstream terlalu berafilisi pada materi hingga keberimbangan berita dinomor sekiankan, dan  keuntungan materi diutamakan.
            Perang berita antar media sekarang menjadi fenomena tersendiri, hal ini tidak lepas dari siapa dan apa kepentingan dibelakangnya. Kepentingan pemilik modal seharusnya hanya terbatas pada sisi manajemen perusahaan saja, tidak sampai ke redaksi. Namun, sisi manajemen perusahaan pun punya kesinambungan 
dengan redaksi. Redaksi dalam memproduksi tentu membutuhkan biaya cetak dari perusahaan, dan disinilah kepentingan itu bermain. 
            Tentu saja hal ini selain melanggar dan menciderai kode etik pers, juga mencedarai hakikat Pers pada dasarnya yaitu keindependensian atau keterlepasan media dari berbagai tekanan dan intervensi dalam keberimbangan sebuah berita. Namun dalam hal ini, hal itu tidaklah terjadi hingga muncul beberapa masalah yang tidak diinginkan. Seperti kerugian nama baik seseorang misalnya akibat nilai sebuah pemberitaan. Tentu media mainstream sudah bisa mengntisipasi hal hal ini, hal hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Seperti Jawapos yang mempunyai tim ombudsman khusus dalam hal hal yang tak diinginkan Ombudsman berfungsi untuk menjembatani antara redaksi dan pihak pihak yang bermasalah dengan pemberitaan.
            Ditambah dalam perjalanan mengahadapi masalah yang demikian biasanya media media yang belum memiiki tim khusus yang menjembatani antara redaksi dan pihak pihak yang bermasalah lebih memilih dewan pers untuk menjembatani mereka. Dewan pers bergaung namanya ketika akhir akhir ini bisa memediasai konflik yang melibatkan media.
Namun ini hanyalah mekanisme dari sudut pandang mediasi saja, jika di meja hijaukan hal ini bisa saja terjadi, dan di pengadilan tinggal menunggu keputusan dari majelis hakim saja untuk menentukan siapa yang bersalah atau tidak. Dalam sejarah banyak kasus media yang dimejahijaukan, yang cukup fenomenal adalah Kasus Majalah Times vis a vis mantan presiden Soeharto. Dalam hal ini, Soeharto tidak terima dengan pemberitaan Majalah Times tentang harta kekayaan beliau di berbagai negara, dengan berbagai pertimbangan, tim kuasa hukum majalah Times yang digawangi Todung Mulya lubis bisa mengalahkan Presiden Soeharto di pengadilan Negeri Jakarta.

PERSMA DAN DOUBLE ORGANISASI



Persma atau Pers Mahasiswa adalah sebuah wadah bagi mahasiswa yang mempunyai minat dalam hal tulis menulis, reportase dan sebagainya, selagi kaitanya dengan Pers itulah persma. Namun dalam perkemabanganya ia tumbuh dan berkemabang tidak hanya menjadi wahana edukasi saja, dalam satu titik ia menjadi sebuah media alternatif, ketika media mainstream sudah menjadi kepanjangan tangan dari politikus, maka Persma adalah satu satunya media yang mampu bersikap Pers pada hakikatnya.
Dalam perkemabanganya ia juga tak lepas dari masalah masalah kontemporer, salah satunya adalah duoble organisasi atau berkarier lebih dari satu oragnisasi. Dalam beberapa hal, ini menjadi hal yang cukup tabu, ditambah di satu kaki ia ada di Pers yang menginkan sebuah indepedensi, namun dikaki yang lain ia ada dalam sebuah organisasi ia dituntut memiliki idealisme yang cukup tinggi.
Hal ini bisa menjadi hambatan ia dalam berkarier di Persma, paling tidak dalam dirinya pertempuran hati adalah sebuah keniscayaan. Bahkan ada sebuah asumsi yang mengatakan, anggota Persma yang berkarier lebih dari satu organisasi akan dipertanyakan lagi independensinya, begitu juga punismentnya. Bahkan ada suatu kecurigaan bahwa mereka yang berkarier lebih dari satu Organisasi tidak lagi punya Independensi lagi terkait posisinya sebagai Anggota Persma. Apalagi mereka yang berkecimpung di Perpolitikan Kampus atau pergerakan mahasiswa seperti HMI, KAMMI, IMM, GMII, PMII, PP, dsb dianggap sebagai kepanjangan politik mereka, dan bukan tak mungkin Media Persma menjadi politic will  mereka juga.
Dan pada kenyataanya, dalam AD ART beberapa Persma menyikapi hal ini dalam wilayah yang abu abu, antara iya atau tidaknya masih dipertanyakan. Lebih miris ketika beberapa punggawa penting pers itu adalah mereka juga adalah juga berkarier di lain organisasi, meski dalam beberapa keputusan dan kebijakan pertimbanganya benar benar independen, namun tidak bisa lepas dari stigma, dan hal ini mengahambat proses independsi dari pers itu sendiri.
Namun, begitulah bagian kehidupan ia selalu memajang Pro dan Kontra. Tak selamanya berkarier lebih dari satu Organsasi itu jelek, dan bukanlah suatu masalah yang akan mengganggu keloyalitasan dan keindependisinya sebagai anggota dari Persma itu sendiri.  Namun masalah kemilitansian dan keloyalan bisa menjadi tak menjadi masalah ketika ia sudah punya prinsip dan tujuan yang jelas dari apa yang ia pilih yaitu berkarier di lebih satu organisasi.
Bahkan kaitanya dengan anggota Persma yang berkarier juga di perpolitikan kampus, dilihat dari sudut pandang lain, malah menjadi sebuah kabar positif, bagaimana tidak posisinya ia dalam kancah perpolitikan akan membuat medianya lebih mudah mengakses informasi dan isu apa yang telah terjadi, dan bisa dengan mudah juga menemui mereka mereka yang punya sejuta kepentingan lain. Namun hal ini menjadi catatan, Pemred yang punya wewenang bagaiamana medianya berkembang dan nantinya diterbitkan di kampusnya. Di sisi lain punya kapabilitas yang mumpuni juga haruslah netral dari segala kepentingan, it’s ok bagi anak buahnya yang berkarier lebih dari satu Organisas, namun ia (Pemred) harus murni dari kepentingan untuk  menghindari ia adalah alat Political Will para politisi yang berkepentingan.
Lain lagi halnya dengan masalah idealsime dan indepensi yang bisa menjadi suatu kontradiksi malah bisa sinkron antara pergerakan dengan pers, salah satu fungsi Pers adalah sebagai wadah pengawasan. Dalam negara demokrasi, pengawasan adalah sebuah keniscayaan. Apalagi di era reformasi ini, pengawasan terhadap kinerja lembaga lemabaga negara haruslah diberlakukan dengan tujuan membangun dan kedepanya lebih baik.
Kaitanya mekanisme chek and balances (konteks saling memeriksa dan menyeimbangkan) dalam konteks kemahasiswaan, sungguh disayangkan jika hanya chek and balances dari satu sudut pandang saja, karena semua masalah yang ada tidak bisa diakomodasi. Jika mau jujur, dalam sikap kritis terhadap perpolitikan kampus, politisi kadang lebih tajam analisisnya dari Pers itu sendiri, apalagi mereka yang bertindak sebagai oposisi, harus diakui dan sangat disayangkan ketika sikap kritis itu, hanya berlalu saja. Media dalam hal ini persma paling tidak bisa menjadi wadah mereka yang bersikap kritis.
            Walau bagaimanapun juga, ada sebuah kesimpulan yang menarik yang dianalogikan dalam kehidupan nyata mengenai kontroversi double otganisasi ini. Bahwasnya berkarier lebih dari satu Organisasi bagaikan beristri lebih dari satu. Ia haruslah adil antara keduanya, ia bisa memanage waktu antara keduanya. Namun keadilan sendiri dalam benak beberapa orang sulit terdefinisakan, dan kadang masih terasa ambigu dalam beberapa keadaan, hingga akhirnya pilihan untuk double Organisasi bukanlah pilihan yang salah bukan pula pilihan yang benar. Namun kemabali lagi pada prinsip hidup seseorang, bolehlah ia bisa ikut seratus Organisasi sekaigus, namun ia haruslah punya satu prinsip saja.
Diringkas dari diskusi pada Selasa, 19 Mei 2013 tentang manajemen organisasi