Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Agustus 2013

TINTA ITU ABADI



tulis, tulis, dan tulislah. Meski tidak dibaca, suatu saat akan berguna” Pramoedya Ananta Toer
Kompasiana.com
                Seorang sahabat pernah berkata, bahwa hidup itu berasal dari tinta tinta, warna kehidupan ini pada dasarnya berasal dari tinta. Ya tinta adalah hitam pada umumnya, logikanya kehidupan itu hitam. Namun tidak juga, ketika hitam itu dibentuk menjadi sebuah abjad, lalu terangkai menjadi frasa, dari frasa terkumpul lalu menjadi prosa, dan dari prosa lah menjadi sebuah cerita. Cerita pun demikian tak selamanya ia hitam adakalanya putih, namun cerita dan tinta yang membentuk warna kehidupan harus bersatu dalam sebuah frasa juga yaitu menulis.
                Berbicara menulis memang tak akan ada habisnya, sebuah pepatah mengatakan “scripta manen, verba vollen”, atau yang tertulis akan abadi dan yang terucap akan musnah. Mereka yang terkenang sepanjang zaman adalah mereka yang berjuang dengan tinta mereka, berjuang dengan pena mereka. Kekuatan kata kata memang tak ada tandinganya, padahal ia tersusun dari sebuah lidah, ya lidah, bertulang pun tidak.
                Lihat saja, berapa banyak nama manusia yang harus meregang nyawa karena lidah ini. lidah sudahlah menjadi penjahat yang Untouchable sepanjang sejarah manusia. Namun kita juga harus memandang secara proporsional juga, berapa banyak manusia abadi karyanya karena tinta ini. Iwan Fals pernah berdendang, hidup memang sementara tapi karya selamanya.
                Socrates, Plato, dan Aristoteles masyhur dalam sebuah keabadian dengan konsep idea filsafat mereka. Balas pemikiran Imam Ghazali dengan Ibnu Sina tentang makna sebua kerancuan masih bisa dinikmati dan dipelajari hingga kini. Ulama ulama masyhur kita tak akan pernah diikuiti pahamnya hanya karena mereka berotak cemerlang dan jenius dalam beretorika, mereka tuliskan kecermelanganya dalam kitab kitab masyhur mereka untuk kemajuan pengetahuan kedepanya. Tidak hanya dalam hal bersifat pengetahuan saja, bahkan dalam hal profanik, Machievelli pun dalam perenialisme karena the prince, suatu kitab berisi cara cara mempertahankan kekuasaan dengan cara diktator dan menghalalkan segala hal.
Dan benar, mereka lagi lagi abadi karena tinta tinta itu, ternyata memang benar. Bahwa hidup itu berasal dari tinta tinta ini, selain memberi warna dalam hidup kita, ternyata tinta juga memberi sebuah janji tersirat, yaitu keabadian. Keabadian bagi para hamba hamba yang mau saja berbagi pengetahuanya dalam lembaran lemabaran berisi goresan tinta dalam bentuk abjad dan dengan kemampuan indera tertentu, ia akan menjadi sebuah cerita, hikmah, pengetahuan sampai dengan hasutan.
                Namun Keabadian milik seorang hamba yang Dhaif  tentu berbeda dengan keabadian milik  Yang Maha Kuasa, yang maha kuasa itu perkasa, dan abadi milikNya adalah selamanya, tidak akan terpisahkan oleh mauut, bahkan kabarnya maut akan merasakan “maut” dihadapanNYa. Tulisan adalah karya manusia, manusia adalah karya tuhan. Dan tuhan mengkaryakan juga alam semesta beserta isinya, termasuk surya. Tiap hamba memang akan merasakan maut, namun setiap tulisan hamba tidak pernah merasakan maut. Padahal ia hidup, hidup ada dalam hati mereka yang membaca. Termasuk mereka yang membaca juga akan merasakan maut.
                Memang setiap manusia ingin merasakan sebuah keabadian, dalam dongeng Frankenstein adalah fenomena tersendiri, disebutkan ia bisa abadi sampai akhir zaman ketika berhasil menemukan sebuha ramuan ajaib. Dalam kepercayaan kita (Islam) Beliau Khidir manusia mulia nan bijaksana dan Isa Almasih adalah manusia abadi. Terkecuali Frankenstein, mereka (Isa dan Khidir) adalah manusia mulia, mereka abadi karena kehendak yang kuasa.            
Seberapa enggan kita mengkaryakan sebagian hidup, pengetahuan, dan pengalaman kita kedalam sebuah putihnya kertas dengan tinta. Hidup kita, pengetahuan kita, sekaligus pengalaman kita akan terestriksi oleh kematian. Kecuali kita menuliskanya, kehidupan akan terasa cukup lama dengan dikaryakan bersama tinta, bahkan tidak hanya itu, sebuah entitas tak bernyawa bisa juga abadi dengan Hiperbola dan turut andil dalam kehidupan manusia.
Tidak munafik kita rasanya menyebut Pram masih hidup dalam reformasi ini, meski kita sepakat ia tidak sampai satu windu menikmati reformasi, ia masih hidup dengan rangkain abjad abjad yang mengantarkanya pada nomine nobel sastra. Ia masih menjiwai perlambangan kaum periferal dan tertindas, ia juga wakili kaum terpelajar yang bersemangat kukuhkan idealismenya. Sekaligus berkat pram pula, keobjektifan sejarah lebih kental terasa meski diucap mulut mulut subjektif yang biasanya menkooptasi kebenaran sehingga kebenaran itu tampak semu.
Sekarang kita hanya menunggu dedikasi dan komitmen untuk siap mengabadikan kehidupan, pengalaman, bahkan pemikiran sekalipun yang terestriksifikasi oleh maut entah kapan dan dimanapun tempatnya. Kita harus sadar, menulis bukan pula hal gampang, namun banyak cara gampang untuk memulai menulis. Meski sesekali melihat tulisan kita buruk rupanya, tidak seperti syair Alisyahbana atau Armijn Pane, bukan sejenaka Goenawan Muhammad atau GusDur, bukan sesarkas Mochtar Lubis, atau tidak seilimiah tulisan para cendekiawan. Namun itu bukanlah hal yang membuat tulisan kita harus mandeg di tengah jalan.
Memang menulis syair itu menunjukan kita pandai berirama dengan tinta, berfilsafat menunjukan kita adalah orang yang mampu berpikir secara radix dan Frontal, menulis politik menunjukan kita adalah orang yang kritis dan update terhadap situasi yang ada. Menulis Ayat AyatNya dan sifat sifat Nya yang transenden menunjukan kita religi dalam kehidupan, namun menulis apapun semuanya dalam semua hari dalam hidupnya berarti ia telah berkiat diri untuk hidup abadi.
Patutlah sebagai epilog dikutiplah sebuah kalimat dari Pram,“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”  
Bumi Allah, 8 Agustus 2013

Aku yang tersadar dan bergerak (degradasi di awal laga)


                Matakumasih melek memandang lukisan di tembok yang tiada berbentuk rupa. Aku barusaja tersadar dari kesementaraan maut. Aku mencoba meraih ponsel kesayanganku, ternyata waktu menunjuk 05.38artinya aku meninggalkan waktu hampir satu jam untuk berkelana di alam ilusi,daripada menghadap dan bercengkrama dengan illahku.    Segerasaja kubergegas mengidupkan saklar sanyo dan mengambil air wudhu, dengan cepataku menyambar percikan air yang mengucur dari kran yang telah separuh berkarat.Sajadah kugelar, kulipatkan dan kulilitkan sarung kumal di pinggangku, segerakukumandangkan takbir lirih yang suaranya kalah keras dan tegas dari kicauanpipit pipit pagi.
Sahabatbisnis.com
                Seusaisalam, kutoleh ke gumpalan kasur tipisku, tanpa bantal dan tanpa guling. Hanya saja untuk menikmati ganjalan empuk di kepala terkadang kulipat satu satunyaselimut biruku dengan korban sekujur tubuhku diserang udara malam. Tanpamenunggu waktu lama, langsung kusambar selimut biruku dan kunikmati“kesementaraan” maut itu.
***
                Hariini adalah hari pertamaku memulai sebuah kehidupan baru. Setelah malamsebelumnya, meminjam sebentar tulisan saudaraku tercinta, seorang mahasantriyang tidak diragukan tulisanya, yaitu pembantaian intelektual. Sebuah malamyang kurasa cukup dinamakan sandiwara, kami terpaksa melayani puluhan ataumungkin ratusan pertanyaan pertanyaan yang aku sendiri menganggap ini sebagaiujian disertasi untuk mengejar gelar seorang doktor. Namun dibalik itu, akuyakin ini sebagai salah satu ke-khasan sebuah peradaban sebuah organisasi yangtelah melaihirkan puluhan orang berprestasi.
                Kehidupanbaru itu bernama LPM Pabelan atau secara singkat kunamakan Pabelan. Nama yangtelah terukir di benak hati ini, nama yang tak disangka dan tak diduga telahmenemani kehidupanku selama menikmati bangku kuliah ini sejauh ini. Aku merasadi Pabelan aku menemukan keindahan dan kesejatian.
                Sepertiumumnya manusia, seusiaku adalah usia yang dikatakan pencarian jati diri.Proses ini yang kualami sendiri, dua semester awal bergelut dengankeputusasaan, bergelut dengan keluh kesah, bermain dengan perasaan. Akuberkutat dengan sandiwara kehidupan, aku tak ragu untuk berkecimpung didalamnya, karena aku yakin akulah tokoh utama sandiwara itu, dan aku yakinsutradara kehidupan ini telah menyiaapkan sebuah cerita indah untuk hidup ini.Dan ternyata, setelah bercengkrama denganya, aku menjadi heran, karena akuberbicara dengan diriku sendiri.
***
Mundur satutahun, aku mencoba mengorek informasi dan data yang aku dapat dari indramakhluk dhaif seperti aku. Dan ternyataaku masih ingat degradasi dan dekadensi itu, sebelum program pengenalanakademik, aku disuguhi pengenalan terlebih dahulu bernama masta atau masataaruf, yang diselenggarakan IMM. Mungkin ini satu organisasi yang aku terlebihdulu kenal, aku pun mencoba bergabung dengan sayap merah ini. dikarenakan siMasa SMA aku cukup apatis dengan yang namanya organisasi, hingga kulampiaskansaja apa yang menjadi ambisiku.
Beberapa harikedepan, aku pun cukup antusias ketika dalam sebuah Display unit kegiatanmahasiswa dalam Program Pengenalan Akademik, satu persatu menunjukan keunikanmereka, aku hanya tertarik dua ukm yaitu resimen mahasiswa dan koperasimahasiswa. Alasan aku pun cukup unik, aku memilih menwa karena rasa frustasikutertolak PTN. Aku ingin menjadi Polisi, apalagi posturku memadai, menjulangdengan 172 cm dan badan tegap menjadi Modal dasar ayahku menyarankanku bergabung dengan UKM ini. Pun denganKopma, semangat wirausahawan begitu menggebu kala itu, dan iming iming materiyang memadai membuatku tertarik pada UKM ini.
                Begitumasuk ruang kelas untuk menerima materi selanjutnya, aku disuguhi display lagidari UKM tingkat Fakultas. Sebuah lembaga penerbitan atau Pers Mahasiswamembuatku tertarik. Tak lama aku mencantumkan nama sekaligus nomor HP pada formpendaftaran, aku yakin dengan empat organisasi yang kupilih, aku yakin bisamematahkan mitos kuliah dan organisasi bisa jalan seimbang, aku optimis dengansemuanya, meski tidak begitu sadar bagaimana kehidupan di kemudian hari.
***
                Seiringwaktu berjalan, aku ditunjukan sebuah sandiwara menarik kehidupan ini. menwayang menjadi Fokus utamaku harus kukubur dalam dalam. Sempat beberapa latihan,aku tertegun syarat menjadi anggotanya mengikuti pendidikan selama satu minggu.Dan tujuh hari bukanlah waktu yang sebentar, itu waktu akademik yang panjanguntuk melakukan hal yang lebih penting. aku pun mengurungkan niatku. Masih adatiga peluru yang kupakai untuk mengantar ke cita cita hidup ini.
                Kopmamenjadi destinasi tujuan berikutnya dari panggung sandiwara ini, diklat dasarmenjadi syarat utama menjadi anggota. Namun aku harus mengubur impian karenabertabrakan dengan agenda IMM yang aku ikuti. Padahal agenda yang kuikuti tidakbegitu penitng kuikuti. Dan harus kurelakan satu peluru telah kutembakan ke arahentah berantah. Dua peluru masih kukantongi untuk ketembakan secara tepatsasaran.
                Tepatpenghujung semester, aku dihadapkan pilihan penting DAD yang menjadi pintugerbang IMM harus berbenturan pula dengan Msuyker dari Justissica yang telahmenetapkan aku menjadi anggota. Aku harus legowo memilih Justissica untukmenjadi peluru terakhir harapanku menjalani sisa hidupku di Kota Bengawan ini.terlebih DAD berlangsung tepat waktu liburan kuliah, dan relatif lamadilaksanakan. Dibanding dengan agenda musyker yang memakan waktu satu harimembuat aku memilih musyker menjadi pilihan utama.
                Ternyataagenda musyker dibatlkan akibat ketidakhadiran anggota dalam kouta yangditentukan, aku pun cukup kecewa. Karena pelaksanaan kembali tepat setelah DADIMM berakhir, namun aku memilih pulang diantara waktu itu, aku genggam kangenyang selama ini kupendam, kupendar dengan menaiki bus menuju kota kelahiran,Pemalang Ikhlas.
***
                Singkatkata, peluru tinggal satu untuk hari ini, Justissica.  Apalagi Justissica mempunyai nakhoda baru.Aku semakin optimis menggapai hidup ini. namun ternyata disinilah fase burukitu dimulai. Namun, aku percaya abjad ini cukup kupendam dalam hati saja. tidaketis kurangkai menjadi chapter sebuahbagian hidup. Intinya fase ini aku mengalami derivasi dalam hidup. Baik secaramoral ataupun fisik.
                Selepasdari Justis aku masih dalam kesendirian, rasa optimis yang dulu berkobar kiniternyata disiram rasa pesimisme ego yang tinggi. Hukum rimba ternyata berlakujuga di dunia organisasi, siapa yang kuat dialah yang hidup dan merajai, denganusia yang masih belia aku masih rookie dalammenjalani kehidupan di level expert.Akibatnya empat peluru itu telah habis, untuk membidik sasaran yang salah. Akukehilangan asa lagi, pistol ini baiknya kusimpan saja, meski belum berkaratsemangatku telah runtuh mencari peluru lagi dan lagi.
                Akupunsemakin sungkan ngampus, terlebihbertemu kawan kawan yang sekarang berlabel aktivis. Aku kadang harus menundukankepalaku jika bertatap muka, aku merasa sendiri di kota bengawan ini, hanyakumiliki teman teman seangkatan kuliahku saja. Aku merasa gagal akibat ego ini.Aku semakin parno dengan organisasi yang telah membuatku hatiku ternganga danmenutup logika berpikirku. Aku sedang terluka dalam jurang kesepian, terkoyakmacan buas bernama ego. Tiap waktunya aku hanya bercumbu dengan kesunyian, akumerasa kesuksesan adalah utopia. Aku berharap langit segera turunkan hujanya,untuk redakan panas hati ini, dan segera saja aku berharap gunung hembuskanangin segarnya untuk dinginkan kepala ini.
                FaizalAS, penikmat kuliner Ketan
                Sukoharjo,21 Juli 2013

Senin, 15 April 2013

ACUH



                Diam adalah jawaban, itukah acuh, atau acuh adalah meniadakan, seperti hitler kala mengenoside ras semith. Terlalu satire memang, namun itulah acuh, manusia perlu tahu dan mengerti bahwa dalam ketiadaan yang subjektif selalu ada acuh. Acuh memang ada dalam manusia namun manusia menggunakan acuh untuk meniadakan.
                Acuh atau mengacuhkan bukanlah pilihan yang mutlak, ada satu lagi yaitu tidak memilih kedua duanya. Bebahagialah manusia yang tidak memilih diantara keduanya, acuh dan diacuhkan adalah meniadakan, dan tidak memilih keduanya adalah antitesa dari meniadakan yaitu membuat ada. Namun, tiada manusia sempurna, karena itu dalam suatu hal ia pernah diacuhkan dan telah dicoba untuk ditiadakan. Mungkin hukum karma akan berlaku juga, bahwa ketika manusia itu diacuhkan coba saja, ia akan mengacuhkan yang lain.
                Wanita adalah Pria yang diacuhkan, ia berasal dari tuang pria yang diatiadakan atau diacuhkan. Terlalu satire, namun itu realitasnya. Hukum karma berlaku lagi, wanita mengacuhkan pria dan itulah hari hariku diacuhkan dan penuh dengan frasa acuh. Namun aku bertanya lagi, dalam sisi lain. Kucoba tak pernah mengacuhkanya, namun tiada hari tanpa mengacuhkanku, hingga karma adalah mitos.
                Tak baik berlarut dalam ketiadaan karena acuh, aku memang sedang ditiadakan dihadapanya. Namun pahlawan tak akan disebut pahlawan ketika belum menentang. Untuk tidak diacuhkan manusia harus berontak. Itulah yang kucoba kulakukan, namun wanita tak suka pemberontakan, karena bagaimanapun pemberontak hidupnya di ujung bayonet. Dan sekali lagi aku diacuhkan.
                Namun pahlawan tidak akan mati, pahlawan itu abadi. Hati dan semangat mereka masih ada untuk hidup, begitu juga aku. Aku mencoba membuat hati dan semangat kehidupan ketika aku diacuhkan dan ditiadakan.  seberapa panas api semangat kehidupan itu, namun acuh itu tidak kecil dan acuh itu tak pandang siapapun, wanita lagi lagi mencampakkanku. Terlukakah, pasti, namun bagi seorang patriot terluka dan mandi darah dalam laga adalah hal biasa. Yang tabu untuk pahlawan adalah mandi air mata.
                Aku hanya berpikir, apa kini aku tiada penting, apa yang membuatku tiada penting. Toh aku pria yang tak ada beda. Sepertinya kapitalis merambah dalam pikiran wanita yang mengacuhkanku, ia membuang semua yang tak berguna, dan itulah kenapa donat adalah lambang kapitalisme.
Bicara wanita tak akan ada habisnya, dari awal manusia hingga yaumil qiyamah wanita adalah bahan yang menarik untuk dibicarakan. Namun sampai di titik ini sepertinya cukup bicara wanita, ketika sampai pada kata acuh, karena acuh adalah tiada, untuk apa ketiadaan itu dibicarakan.
               
                

Jumat, 05 April 2013

Tinta itu abadi



tulis, tulis, dan tulislah. Meski tidak dibaca, suatu saat akan berguna” Pramoedya Ananta Toer
                Seorang sahabat pernah berkata, bahwa hidup itu berasal dari tinta tinta, warna kehidupan ini pada dasarnya berasal dari tinta. Ya tinta adalah hitam pada umumnya, logikanya kehidupan itu hitam. Namun tidak juga, ketika hitam itu dibentuk menjadi sebuah abjad, lalu terangkai menjadi frasa, dari frasa terkumpul lalu menjadi prosa, dan dari prosa lah menjadi sebuah cerita. Cerita pun demikian tak selamanya ia hitam adakalanya putih, namun cerita dan tinta yang membentuk warna kehidupan harus bersatu dalam sebuah frasa juga yaitu menulis.
                Berbicara menulis memang tak akan ada habisnya, sebuah pepatah mengatakan “scripta manen, verba vollen”, atau yang tertulis akan abadi dan yang terucap akan musnah. Mereka yang terkenang sepanjang zaman adalah mereka yang berjuang dengan tinta mereka, berjuang dengan pena mereka. Kekuatan kata kata memang tak ada tandinganya, padahal ia tersusun dari sebuah lidah, ya lidah, bertulang pun tidak.
                Lihat saja, berapa banyak nama manusia yang harus meregang nyawa karena lidah ini. lidah sudahlah menjadi penjahat yang Untouchable sepanjang sejarah manusia. Namun kita juga harus memandang secara proporsional juga, berapa banyak manusia abadi karyanya karena tinta ini. Iwan Fals pernah berdendang, hidup memang sementara tapi karya selamanya.
                Socrates, Plato, dan Aristoteles masyhur dalam sebuah keabadian dalam filsafat mereka. Mereka lagi lagi abadi karena tinta tinta itu, ternyata memang benar. Bahwa hidup itu berasal dari tinta tinta ini, selain memberi warna dalam hidup kita, ternyata tinta juga memberi sebuah janji tersirat, yaitu keabadian.
                Keabadian milik seorang hamba yang Dhaif  tentu berbeda dengan keabadian milik  Yang Maha Kuasa, yang maha kuasa itu perkasa, dan abadi milikNya adalah selamanya, tidak akan terpisahkan oleh maut, bahkan kabarnya maut akan merasakan “maut” dihadapanNYa.
                Memang setiap manusia ingin merasakan sebuah keabadian, dalam dongeng Frankenstein adalah fenomena tersendiri, dalam kepercayaan kita (Islam) Beliau Khidir manusia mulia nan bijaksana dan Isa Almasih adalah manusia abadi. Terkecuali Frankenstein, mereka (Isa dan Khidir) adalah manusia mulia, mereka abadi karena kehendak yang kuasa.  
Tulisan adalah karya manusia, manusia adalah karya tuhan. Dan tuhan mengkaryakan juga alam semesta beserta isinya, termasuk surya. Tiap hamba memang akan merasakan maut, namun setiap tulisan hamba tidak pernah merasakan maut. Padahal ia hidup, hidup ada dalam hati mereka yang membaca. Termasuk mereka yang membaca juga akan merasakan maut. 

Minggu, 31 Maret 2013

Catatan Penggembal pikiran



Dihadapanku bukanlah lagi pikiran pikiran kerdil. Pemikiranya tak seperti pepatah katak dalam tempurung, diksi katak memang terlalu naif bagi mereka yang higienis, tak lupa mereka juga menusia yang higienis.  Hingga katak pun kuganti dengan elang, yang bebas menjelajah ke alam raya ini. Tak ada batas bagi sayap elang, lagi pikiran. Elang tak layak digembalakan, elang tak layak bersangkar emas. Elang selalu bersangkar rumbia, elang adalah lambang kebebasan. 
                Pikiran dan elang mungkin sama, mungkin juga bersayap, dan mungkin juga bebas. Dihadanku lagi, pikiran manusia manusia ini haruslah digembala. Itu berarti elang tak lagi bebas, ia harus meninggalkan rumbia. Namun aku kini adalah penggembala pikiran, bukan elang. Elang memang bebas, namun kukira pikiran bukan elang.
Mungkin saja dihadapan saudara adalah sajak sajak yang mungkin sekelas Sutan Takdir tak bisa memaknainya. Sajak abstrak untuk hidup ini, untuk hidup penggembala. Sahabat Musa dan Muhammad, manusia manusia termulia yang pernah menggembala.
***
                Sore adalah sebuah massa, dimana sang surya berjumpa lagi dengan barat, berjumpa lagi dengan kapitalisme dan kebebasan. Sore memang enak sekali untuk berbicara kebebasan, berbicara mengenai apa saja, tentang tak ada lagi diktator atau otoritarian. Dikala senja elang elang haruslah pulang ke rumbia mereka.
Sore hari penggembala, seperti biasa mengumpulkan gembalanya, begitu juga aku, aku harus mengumpulkan pikiran pikiran yang telah kugembalakan dimana mana, aku harus menyatukan mereka, yaitu pikiranya. Dan sore itu juga adalah masaku untuk menggembala, menggembala mereka ke suatu tempat.
                Tetapi terkadang pikiran itu mungkin terlalu lelah terbang kesana kemari. Hingga kadang aku menggembala mereka dengan terbang ke suatu tempat, kadang pikiran itu terengan engah, apalagi aku bawa ke rumah zeus, tentu semakin tak jelas cara terbang mereka. Meski mereka gembira ketika berjumpa venus, nampaknya istana zeus terlalu sulit untuk dijumpai, meski Venus aduhai menwan cantiknya.
                Meski ada rencana mengajak mereka ke rumah abu nawas, untuk belajar kearifan dan kebijaksanaan, sekaligus kecerdikan. Untuk lebih dekat ke Illah mantan penggembala termulia, Musa dan Muhammad. namun akau masih bingun mencari teman untuk menunjukan jalan ke rumah abu nawas di baghdad sana. Aku takut mereka tersesat ke ulan bator, hingga mereka akan seperti Genghis Khan.
                Dan terkadang, aku juga mengajak mereka ke istana kremlin. Namun juga cara terbang mereka masih apatis, masih tak mempunyai tujuan, untuk apa terbang ke kremlin. Untuk apa mempelajari Glasnost dan Perestroika, jika Dekon Kontemporer kita lebih baik, meski berkiblat sama. Ya Indonesia berkiblat barat, meski kiblat itu ada di barat laut.
                Namun tidak semua pikiran yang kugembalakan menjadi enggan kuajak pergi, mereka kadang pergi ke rumah zeus, meski tak berjumpa dengan venus, ia amat yakin rumah zeus di athena sangatlah nyaman. Ada yang suka rusia dan baghdad, yang aku sukuri tak ada yang suka mengunjungi Ulan bator.
                Namun cukuplah semua yang kugembalakan gembira ketika mereka ada di Nusantara saja. Nusantara ini cukup indah di mata mereka, meski aku yakin Indonesia bukanlah miniatur dunia, namun kuyakin dunia akan mini tanpa nusantara.
***
                Syahdan, sore di atas permadani hjau, aku termangu dan menunggu, mau kubawa kemana pikiran pikiran hebat ini. Hari ini aku terlalu lelah setelah menggembala ke dunia ketidakadilan, dunia dimana orang bebas menghujat dan bebas katakan apa saja, lagi lagi ia bebas layaknya elang.
                Anak gembalaku mulai datang  diatas permadani hijau ini, mulai bergelut dan berguling manja, layaknya seekor anak macan, ia terlihat lucu dan menggemaskan, meski waktu nanti akan membuatnya garang dan sangar. Aku yakin pikiran akan seperti itu, ketika dia ada di lingkunga yang ganas, sangat mungkin wataknya ganas. Lihatlah saja srenggeti, insting keras selalu ada di atas kasih sayang. Kanibalisme adalah wajar dalam dunia rimba. Mungkin itu yang kujumpai di dunia ketidakadilan.
                Hari ini aku sial, sial dan sial. Aku ingin ajak gembalaku bermain main ke suatu tempat, tempat dimana gembala gembalaku menjadi lebih dewasa. Aku lupa nama tempatnya, kuyakin bukan athena maupun sumeria yang telah ditelan bencana. Namun penunjuk jalan tidak hadir jua, aku sudah berjanji ke gembala gembala kecilku. Namun hari ini mereka menghargai aku, mereka mau membahas indonesia mereka.
                Ingin kuajak mereka berguru ke Ki Panji Kusmin, namun rasanya mustahil. Ia sudah di alam lain bersama nama HB Jassin, aku urung bertemunya. Padahal beliau adalah orang hebat, ia menciptakan dua elang dari surga, untuk perlihatkan Indonesia dengan togog busuknya. Iya benar dimanapun togog itu busuk.
                Namun gembala gembalaku bukanlah togog yang busuk, mereka adalah hamba hamba Tuhan yang taat. Hamba hamba Illah Musa dan Muhammad, mantan penggembala mulia. Sekarang di indonesia yang “Tanah Surga Katanya”, pikiran pikiranku kuajak ke tempat safari para mereka yang suka disebut yang mulia. Tempat yang mulia berdiskusi, tempat yang mulia memakai topeng. Topeng keadilan dan kebenaran, dibalik wajah yang tak pantas kusebut yang mulia. Ia kusebut yang mulia ketika bertopeng hipokrit, selebihya tidak.
                Tempatnya di senayan, para yang mulia itu semuanya bertopeng, termasuk mereka yang katanya dekat dengan Illah Muhammad dan Musa, sang penggemabala mulia. Tak ada penjual topeng disini, aku Berkhuznudzan saja, mereka yang mulia adalah orang yang kreatif membuat topeng.  Namun pikiran pikiran yang kugembalakan tak tertarik dengan kekreatifan para pembuat topeng itu, para pikiran pikiranku lebih memilih tampil tanpa topeng, aku pun demikian, tanpa topeng pun semuanya tampak bagus. Yang tak ketinggalan pula, para pembuat topeng itu, dulunya pun demikian, bahkan ada yang tampil dengan hati saja, tanpa wajah.
                Hari ini aku lelah bersama mereka, sang surya juga tak tahu entah kemana. Ah mungkin sang surya juga lelah bersama kami. Sang surya tak pernah bicara dan bertanya, namun dalam keheninganya ada kehidupan, kehidupan para penggembala, kehidupan para manusia mulia, sahabat Muhammad dan Musa. Dari keduanya lahir manusia manusia mulia pula, aku pun demikian aku ingin lahir dari diriku manusia yang mulia juga, walau hidup ini hanya sementara, namun karya tetap selamanya.
Cerpen Oleh : Sahabat Surya