Tampilkan postingan dengan label KAMMI AL FATH UMS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAMMI AL FATH UMS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

KAMMI dan Fatwa


“Dengan menyelami kematian,
Manusia bisa hidup dan mati dengan indah”
Komarudin Hidayat dalam Psikologi Kematian (2011)

            Agak ragu sebenarnya, menuliskan kisah lumayan jenaka ini. Keengganan ini berkaitan dengan relasi KAMMI dan sebut saja Jama’ah. Saya pribadi memandang wacana ini ila yaumil qiyamah, karena tidak pernah selesai, dan bosan untuk kembali lagi diperbincangkan. Web KAMMI Kultural sempat secara panjang melemparkan wacana ini ke publik, agar publik menilai KAMMI dengan bingkai yang objektif, dan tentunya memberi kritikan yang membangun bagi relasi kuat ini. Tiada satu tulisan (berkualitas) berbalas.
Namun melihat The death of sukardal (1986), essay pendek bertenaga milik Goenawan Muhamad rasa rasanya ingin segera mencatat dan menuliskan. Cerita dibawah tidak lebih campuran fakta dan fantasi. Fakta didapat perbincangan mereka yang terlibat langsung, dan fantasi hanya beberapa syarah pribadi yang dikontekstualisasikan. Kondisi KAMMI dalam cerita ini, kecil dan kalah. Seperti yang diungkapkan Goenawan dalam essaynya itu, Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. Selamat membaca.
Minggu Sore, pembacaan kredo Kammi dalam pelantikan AB1 dalam suatu DM. “Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak”, dan seterusnya. Kredo dibacakan dengan suara cadas dan tegas. Panitia dalam jumlah besar dan sedikit Peserta tampak fokus mengikuti. Daurah ini lebih special dari sebelumnya, karena mencoba menerapkan Manhaj secara konsekuen (missal : Semua pemateri dari Instruktur, tidak melibatkan “ustadz”seperti biasanya).
Namun, makna itu akhirnya menguap dan tidak berlaku, ketika tempo hari serombongan ustadz membacakan surat keputusan bahwa Kammi sementara harus “istirahat”, demi kebaikan dakwah, kerana kammi tidak produktif, dan alasan ajaib lainya.
Sebelumnya memang, isu KAMMI “dibekukan” oleh Jama’ah santer terdengar di telinga beberapa kader. “mungkin rekrutan kita sedikit” ujar seorang kader, “mungkin gegara mereka tidak dilibatkan DM” ujar yang lainya, “setiap habis pemilu pasti kayak gini“ ujar seorang pengurus, “iya, tahun 2009 pun kondisinya sama”  ia menambahkan.
Pembacaan Fatwa ini berlangsung singkat, tanpa ada interupsi. Fatwa berujar KAMMI tidak lagi produktif dan harus dibekukan untuk waktu yang ditentukan. Aku menerima SK dengan senyum simpul, strukturnya “acak adul”. Pertama, Diksinya puitis dan progressif dari sebagaimana galibnya SK. Misal, Pilihan Kata “dibekukan”, berasal dari kata dasar beku yang ditambahi imbuhan “di-kan”, lebih merupakan proses perubahan benda cair kedalam padat. Produk Hukum Keputusan (Beschikking) menurut Jimly Ashidiqie (2011) haruslah bersifat individual dan kongkrit (individual and concrete), syarat konkrit ini kiranya cukup tepat untuk menghindarkan situasi yang multitafsir.
Kedua, Konsideran hanya berisi rapat dewan dakwah yang tidak menyebutkan rapat dengan KAMMDA, KAMWIL, maupun PP KAMMI yang menjadi garis instruksi resmi KAMMI UMS. Untuk sementara, tenaga kader difungsikan untuk wajihah dakwah yang lain. Artinya saya berani menyimpulkan SK itu Konstitusional.
Meski demikian. Tetap saja, Aktivisme KAMMI harus libur sampai waktu yang tidak ditentukan. Keputusan ini seolah mengingkari program kerja yang pertama kali diteken antara Kader KAMMI, yang tentunya tidak melibatkan kader yang lain. Aktivisme KAMMI disarankan untuk “numpang” di tetangga semacam IAIN atau kampus negeri yang lain. Atau memilih beraktifitas mandiri tanpa fasilitas dan restu dari jamaah
Selepas pembacaan Fatwa, digelar tanya jawab dan debat antara ustadz dan kader, antara Qiyadah dan Jundiyah, antara murabbi dan mutarabbi. Semua menampik, berkelit, maupun membenarkan argument masing masing. Para kader lupa, mereka sebenarnya dididik untuk taat dan anti pembangkangan, Namun kasus ini keluar dari prediksi awal. Ada dua pilihan, mengingkari SK atau Mentaati. “kalau sesuatu tidak produktif, lebih baik dibubarkan saja, termasuk KAMMI !!!” ungkap seorang ustadz dengan tegas. Semua terdiam, melamun, marah, tenang, menangis, bingung, kecewa, sedikit yang tersenyum, itupun senyum simpul seolah menyembunyikan misi yang terlaksana.
Istilah “tidak produktif” pada dasarnya multitafsir apabila dikontekstualisasikan. Istilah “Tidak produktif” dalam standar angka, tidak dilihat dari sulitnya mengais kader di lingkup kampus muhammadiyah, yang cenderung rawan bergesekan dengan gerakan lain yang cukup sentimental. Sebut saja IMM. Istilah rebutan kader, sudah  lazim dalam setiap pekan perekrutan.
Memang bisa dibilang pengkaderan tahun ini tidak mencapai angka 50, namun bisa dimaafkan melihat medan yang sulit dan resistensi yang kuat. Pengakaderan dengan orientasi massa yang subur, tanpa didukung SDM yang memadai, hanya mengarahkan kepada agenda demokrasi yang berbau politis. Terlebih ketika tidak produktif diartikan macet dalam memberi “setoran kader”.
Kisah KAMMI ini ada di lingkup kampus pergerakan.  Kampus yang mengklaim pusat pergerakan, yang terkenal dengan pertigaan jalan sebagai saksi orasi, umpatan, ban bakar, bahkan darah dari masa lalu. Kini mereka harus berduka, KAMMI sebagai gerakan fenomenal di kampus dan kawan perjuangan, sementara menyepi, KAMMI mendapat “wahyu” untuk refleksi dan menyadari dosa kepada tuanya.
Kebetulan Kammi itu bernama AL Fath yang dalam bahasa Alqur’an berarti kemenangan. What’s in a name?, ujar Shakespare, nama itu kini tiada penting. Kemenangan (Al Fath) adalah simbol dangkal ketika dipadukan dengan cerita ketundukan, ketaatan, tangis, dan pengkhianatan. Sangat jauh dengan makna Kemenangan yang penuh perjuangan, berani berduel, ngeyel, dan tidak pernah menyerah.
Di Akhir, para ustadz berjanji, berapologi mematikan kekhawatiran, bahwa KAMMI terancam kosong akan kegiatan. Kader Kammi dijanjikan diberdayakan, termasuk kader kritis dan cerewet yang doyan siyasi  “nanti akan kita rencanakan” ujar salah satu ustadz,  rupanya para ustadz itu cukup humanis. Mereka bisa tampil pemurah, marah, bercanda, tersenyum, dan (mungkin) ..….. kekuasaan.
Setelah pembacaan SK, perbincangan masih berlansung namun hanya antar kader KAMMI.”kita ikuti mereka dulu”, ujar seorang pengurus, “tidak, itu terlalu kompromis” ujar yang lain. “nanti bisa protes lagi” ujar sebuah tanggapan. Aku hanya mengubah apa yang dikatakan Nyai Ontosoroh pada Minke di ujung paragraf Bumi Manusia.”kita harus melawan, nak. Sebaik baiknya, sehormat-hormatnya.



Selasa, 09 September 2014

Cemilan dan Khatib

Entah siapa orang yang menciptakan istilah “Mahasiswa” dan  “Aktivis” dan istilah lain seputar dunia perguruan tinggi. Jawabanku sedikit terbantu dengan terbitnya Edisi Khusus Majalah Tempo tahun ini, yang mengangkat Profil Muhammad Yamin, konon dari renunganya terciptalah makna Mahasiswa yang jamak disebut bagi peserta sekolah perguruan tinggi.
Namun untuk Aktivis belum menemui padanan yang tepat. Terkaan masih berada dalam penerjemahan secara observasi indera saja, jujur saya saya bukan ahli bahasa yang pandai menafsirkan teks. Namun setidaknya dari indera ini masihi berfungsi dengan baik apa itu makna dibalik aktivis dan semacamnya.
Ketika bicara Aktivis. Penggambaran dari inderaku hanya membentur jaket besar, seragam pdh, tukang ketik proposal, panitia seminar, pengurus organisasi sampai laporan pertanggungjawaban. Waah, ada yang menambahi kah?, oh iya kami tukang titip absen di kelas, kami juga ahli lobi dosen untuk memperbaiki nilai tanpa remidi. Wah, menakjubkan.
Kata organisasi membuatku penasaran, dan mengingatkanku pada Tetralogi Pram yang berjudul Jejak Langkah. Dikisahkan, tokoh utama Minke yang diilhami dari bapak Pers Nasional, Raden Mas Tirto Adi Soerjo melawan penindasan dan kolonialisme dengan cara berorganisasi, salah satunya adalah Boycot. Ia berpesan,”didiklah masyarakat dengan organisasi, dan didiklah pemerintah dengan perlawanan”.
Pram terus mengisahkan, minke berjuang lewat sarikat (dalam kehidupan nyata disebut sarekat islam yang kemudian gemilang di tangan Cokroaminoto). Di tengah kesibukanya, Minke masih menjadi Pemimpin redaksi Koran nasional pertama yaitu Medan Prijaji (baca : Medan Priyayi) yang terbit di bandung. Berkat kegigihanya memperjuangakan suara rakyat, ia akhirnya diasingkan di ambon. Ia meregang nyawa selepas diasingkan.
Kisah Minke ini mungkin baru didengar para aktivis kita yang gemar mengadakan diskusi bertemankan makanan ringan. Jumlahnya banyak, lebih banyak dari buku yang tersedia dalam ruangan yang sama. Wah hebat sekali, kita mengalahkan pejuang bangsa kita yang selalu lekat dengan buku ketika diskusi. Kita sudah lebih sakti  dengan hanya bermodal makanan ringan. Oh, sekarang mereka menggunakan buku digital yang hanya beberapa sentuhan konon dunia dan seisinya akan terkuak.
Kadang aku melihat, diskusi mereka pun layaknya khutbah jum’at. Tidak boleh saling bising dan berbicara saat khatib berbicara. Mereka diskusi menggunakan khatib yang akan berbicara berjam jam, tanpa pernah ada yang berani menyela dan protes. Terkadang setelah khatib rampung, pertanyaan tidak kunjung muncul dan seketika ditutup dengan pesan pesan terakhir. Diskusi aktivis sekarang berjalan lebih khitmat dan tenang dari diskusi yang terdahulu.
Kadang pada sang Pembicara mereka bertanya, pertanyaan yang muncul pun kadang tak penting dan begitu remeh (aku sendiri yakin, empunya pertanyaan mengerti akan jawaban pertanyaanya). Pertanyaan tak pernah beranjak “apa solusinya”, “apa pilihan yang tepat bagi mahasiswa”, atau pertanyaan semacam “bagaimana jika“. Pertanyaan mereka begitu singkat dan miskin analisa. Seolah mereka benar benar goblok dan tak tahu apapun dan seolah sang pembicara adalah terpandai diantara mereka.
Mengenai pembicara, cemilan untuk mereka berbeda dengan peserta lainya Cemilan untuk sang pengkhotbah diskusi sering dimasukan kardus kecil dan diduetkan dengan sebotol air mineral. Tampak ketidakegaliteranya manakala sang khatib pun terbata bata dalam menjelaskan arah diskusi. Coba sesekali iseng dengan menghitung berapa kali sang khatib berkata “apa namanya”, “eehmmmm”, atau berpikir sejenak untuk mengemukakan sesuatu. Jikalau kesimpulanku benar, tema diskusi dengan pembicara yang demikian lebih pantas berjudul “apa namanya”.
Sudah saatnya format diskusi lebih egaliter. Suara dari mereka yang berbicara dominan (Pembicara, Fasilitator dll) alangkah baiknya diminimalkan, kecuali dengan durasi waktu panjang. Informasi dan Afirmasi harusnya sudah beranjak ke pertanyaan pertanyaan kritis yang merangsang peserta menemukan kesimpulan diskusi secara mandiri. Begitu.

Minggu, 13 April 2014

Jas HItam

Jelasnya aku lupa nama hari itu, namun ruang waktu itu menunjukan kala senja, kala mentari pulang berpamitan. Ketika kami harus bergegas ke surau untuk melaksanakan Sholat Maghrib. Kumandang lafadz adzan memanggil kami dari bilik kesibukan. Trotoar itu menjadi saksi langkah langkah hamba Allah menuju Surau, diiringi canda tawa, aku masih merangkul temanku dengan perbincangan wagu.
“akh, pernah dengan nama majalah Panji Masyarakat ?” ujarku membuka permbicaraan.
“ apa itu?” jawabnya singkat.
“ ia majalah umat islam yang sempat booming di era orde baru, namun namanya tidak seperti sekarang, seperti sabili, ar rahmah, ataupun al al yang lain, ia memakai nama yang lebih membumi”
“emmmmm… isinya apa itu” jawabnya acuh.
“ ya tentang kondisi umat islam saat itu”, sebenarnya ingin kujelaskan konflik NU – Muhammadiyah yang sempat dibedah dalam Panji Masyarakat, namun jawaban acuhnya membuatku urung menerangkan lebih lanjut
“ kalau tidak salah ia dimotori Buya Hamka, dan diteruskan anaknya”sedikit aku tambahi keterangan
“ Buya Hamka itu siapa?”
“masa gak tau sih”tanyaku retoris, selanjutnya kami hanya terlarut dalam gurauan guraun kecil.
***
            Dalam pengembaraan antara Masjid ke Markas, di kepalau hanya terngiang perbicangan tak asyik tadi. Aku dan temanku ada dalam satu payung organisasi, biasanya para kader lebih enak menyebut “dakwah ini”, daripada secara spesifik dan formal. Aku paham apa yang dimaksud dengan “dakwah ini”, konsep, sejarah, ideologi, dan perkembangan, akhir akhir memang menjadi kajian kritisku.
            Namun kita tidak ingin membahas kekritisian “dakwah ini”, namun hanya memperbicangkan perbincangan tadi. Tampak Al Akh tabu dengan nama Ulama Setenar Buya Hamka, minimal duduk dalam lingkaran “dakwah ini” harusnya tidaklah tabu dengan nama beliau. Aku hanya berprasangka temanku berlagak bodoh, dan memang suasana senja itu hanya guraun belaka.
            Namun, entah sama berlagak bodoh ataupun seperti apa, nyatanya tidak hanya temanku yang ada dalam”dakwah ini” asing dengan nama nama setenar Buya Hamka, Natsir, Agus Salim, ataupun pejuang Sarekat Islam H.O.S Cokroaminoto. Kenyataanya, alasan Ideologis yang “diklaim” transfer dari ruang geografi yang lain, justru membuat mereka lebih mengenal nama Al-Bana, Sayyid Qutb, ataupun Yusuf Qardhawi.
            Masalahnya bukan akan ketunaan tentang nama nama Ulama saja. ”Dakwah ini”, secara formal telah mencantumkan Indonesia, tafsir sederhananya, ia dibangun, dibentuk, ataupun digagas dalam sebuah ruang geografis bernama Indonesia. Selanjutnya, arah gerak tujuan, dinamika gerakan, sampai cita cita luhur tidak lepas dari nama Indonesia.
Implikasinya, mau tidak mau Filosofis maupun Historis dan segala bentuk khazanah tentang Ke-Indonesia-an sudahlah tertanam apik dalam internal “dakwah ini” . karena terasa Absurd, melihat geliat “dakwah ini” yang akar sejarahnya dinisiasi oleh Ulama Ulama lokal, utamanya Muhammad Natsir, tidak begitu dikenal luas. Nama yang akrab malah politisi politisi patronase “dakwah ini”, yang kadang dipuja bak khomaeni dalam rezim Syiah.
            Yang menjadi Problema tentunya tentang keabaian sejarah itu sendiri, entah lupa, acuh, enggan, jijik, malas, sungkan, risih, atau semacam apa. Yang jelas alasan alasan demikian terlalu Nonsens untuk dijelaskan. Padahal, Tak kurang dari puluhan Filsuf dan Pembesar Pembesar dunia menulis akan pentingnya sejarah.
            Namun tak apa, jikalau melihat dinamika kehidupan ini. literasi yang menjadi pintu gerbang akan pentignya kesejarahan mulai tidak akrab dengan kehidupan kader “dakwah ini”. Seminggu yang lalu aku sowan ke Bilik Literasi, Solo. Mas BM, sang pionir yang juga penulis “langganan” majalah tempo, Koran Tempo, Solopos, dan media lain, menghujat kehidupan sok Intelektuil ala Mahasiswa.
            Di awal menjejakan kaki di dunia kampus, para mahasiswa sudah digelari “agent of change”, “Transormer Perubahan”, ataupun puluhan gelar Prestise lain, dalam kenyataanya sangatlah kontradiktif. Bagaimana seorang Intelektual hidup tanpa informasi, berita, ataupun buku, lihatlah berapa ‘’Agent of Change“ yang menenteng buku, mengunjungi perpustakaan, ataupun menulis essay, kalkulasikan dengan “agent of change” yang berjalan bak model, berceloteh dunia mode atau resep makanan.
***
            Sembari berfikir demikian, Aforma Bung Karno yaitu “Jasmerah” atau Jangan sekali kali melupakan Sejarah tepat untuk penggambaran senja itu. Kedua jemari tanganku bertaut dan kusandarkan dibelakang kepala, langkahku kakiku terus kujejakan sembari melopat menghindari lubang di trotoar itu. Tiba di persimpangan jalan, pikiranku kembali menemui dilema, selain jalan mana yang hendak kutuju, Jas Hitam yang kupakai akankah ku-Laundry atau kucuci sendiri. Entahlah.
            Sukoharjo, 13-04-2014


Selasa, 12 November 2013

CERITA DARI GERIMIS


Dunia maya, memang memesona. Apalagi gratis, tempat satu satunya hanya di LPM Pabelan. Kebetulan siang itu aktivitas kantor libur, aku mengorbankan kesendirian di kos dengan bersimulacra di dunia maya siang itu. Sampai sampai derunya tangis langit di siang hari yang mentrnasformasikan dalam bentuk gerimis luput dari indra. Indraku tak menggubris rintik jarum jarum langit yang mencoba menyejukkan siang itu.
 Aku teringat motorku masih belum aman terguyur gerimis yang mengundangku untuk keluar, segera setelah mengamankan aku menghampiri Wahyudi, wakil presiden terpilih UMS tahun ini. Tubuhnya yang bisa kukatakan cungkring ini sedang asyiknya memeluk bantal didepan kantor DPM yang hanya digelari karpet. Didepanya setumpuk buku dari berbagai genre tertata rapi, agaknya ia habis selesai membacanya. Wasis, Menteri PIK sedang asyik memandang layar kaca, tak kalah wasis yang dulunya Ketua KPUM juga dikelilingi buku buku.
Aku membuka pembicaraan dengan menanyakan tentang buku Alvin Toefler dengan The Third Wave nya pada Wahyudi. Tak alpa, kutanya darimana pula Dunia Sophie karya Jostein Gaarder yang terganjal dibawah Laptop Wasis. Obrolan berlanjut kehal yang lain, Wahyudi yang semakin jompo menjanjikan sebuah script untuk kelulusanya, Wasis malah akan menulis tentang  nalar ajar Tan Malaka sebagai sumber karyanya. Tak mau kalah, aku sempat berjanji akan menjadi tongkat estafet wacana Transformasi Syariat Islam dalam Indonesia yang dibawa M. Natsir, dan berlanjut ke Yusril. Selanjutnya  kami berbicara tentang Paradigma Profetik “mbah” Kuntowijoyo, Gaya Periferal Jokowi beserta Surveynya, Partai Islam dan peluangnya di 2014, Solo dengan tradisi kleniknya, salah satunya kami sempat membahas pawang hujan.
Seperti biasa, sebagai eksponen gerakan, pembicaraan tentang kaderisasi dan politik kampus menjadi tabu untuk tidak dibicarakan. Sempat beberapa mengupas gerakan gerakan sosialis dan kekirian, dan beberapa tokoh gerakan beserta pemikiranya. Tibalah sampai pertanyaan ringan wahyudi padaku,”Sal, KAMMI sekarang gimana, dulu di kampus hebat lho, sekarang kayak ngak terasa”. Ada dua pilihan jawaban untukku, berbohong atau diam kemudian mengalihkan perhatian.
Aku yakin pilihan kedua lebih tepat untuk berbicara wacana wacana selanjutnya. mungkin karena “kendablegan” ku, sampai sampai perkembangan KAMMI di kampus aku sendiri tak tahu. Ada istilah “Kader luput” yang sempat disematkan Dika HMI kepada kader gerakan yang setengah setengah dalam menekuni dunia pergerakan. Mungkin saja stereotip “kader Luput” telah tertanam padaku, entahlah.
Tantangan Wacana Dan Kepemimpinan
                Adalah Non Bijaksana, ketika menghadirkan dan menelaah problem tanpa ada tawaran Solutif. Dibawah sebenarnya adalah sexuel dari tulisan saya sebelumnya, yang berjudul,” KAMMI dan Kampus pergerakan (Refleksi kritis Pemilwa 2013) Part 1”, masalah yang dihadapi kiranya sama. Yaitu kurangnya progress dalam kampus itu sendiri, namun dibawah adalah semacam jalan alternatif ketika buntu itu mengahadang.
                Melihat fakta KAMMI yang lalu sempat berbicara di tingkat parlemen saja, pilihan duduk sebagai anggota parlemen bukanlah tujuan utama. Karena jika ada tawaran yang lebih baik kenapa tidak. Seperti dikatakan di awal, di eksektutif lebih menjanjikan untuk merealisasikan program dan kepentingan. Meski sistem kontrol di tangan DPM, namun sejauh ini sistem kontrol yang terjadi tidaklah begitu ketat. Meskipun dalam posisi kedua lembaga sama sama kuat, kritik dan kontrol lebih pada formal atau pelaksanaan kebijakan. Bukan pada substansi dan materi kebijakan.
                Sebagai pembuat kebijakan yang merupakan implementasi dari Undang Undang, tentu ranah gerak kerja lebih interpretatif dan luas daripada duduk di parlemen, yang kadang terlalu Zakelijk (baca: saklek) dan monoton.  Nah, sebenarnya dari situlah langkah besar itu dimulai. Kompetisi selanjutnya adalah bertarung wacana kebijakan dalam lingkup eksekutif. Sehingga pertarungan kepentingan tidak hanya ada dalam ranah legislasi saja, tapi di ruang eksekutif hal ini bisa dikompetisikan.
                Saya hanya menyesalkan, Kabinet terbaru ini hanya satu warna dan satu bendera. Saya heran pula, tidak ada gerakan lain yang ikut dalam proses perekrutan staff di Bem. Padahal jabatan di Bem potensial sekali untuk bermain pencitraan, apalagi media (Pabelan) setia mengikuti di tiap langkahnya.
                Sebenarnya, tantangan dan dialektika politik tidak hanya terjadi di tataran lingkaran kepemimpinan Bem dan DPM. Dalam hal lain, sebenarnya ada alternatif kompetisi lain meski gaungnya tidak terlalu besar dibanding dengan pemilihan mahasiswa. yaitu lewat jalur UKM dan HMP HMP yang ada di Masing masing Fakultas dan Progdi. Kompetisi itu terjadi utamanya dalam musyker (Musyawarah Kerja) yang salah satu programnya adalah memilih Nakhkoda baru.
                Memang prestise sebagai ketua HMP atau UKM masih kalah jauh dibanding BEM atau DPM sekalipun. Namun cukup positif untuk ditanggapi, selain sebagai pengemban program dan penanggung jawab utama dalam kegiatan UKM atau HMP itu, hak politik berupa suara dan bicara dari UKM tidak dikebiri begitu saja. Dalam sidang ataupun pemilihan gubernur di tingkat fakultas, pencalonan tidak hanya dimonopoli lembaga Eksekutif maupun Legislatif, namun UKM yang punya basic massa juga dilibatkan, ini penting untuk meningkatkan Bergaining Position diantara gerakan lain.
                Kesempatan lain yang cukup menggembirakan, UKM ternyata punya suara dalam sidang Parlemen, meski hanya UKM tingkat Universitas, namun kesempatan cukup langka. Ketika Para utusan UKM bisa menjadi satu Faksi dalam satu suara. Utusan utusan UKM ini bisa menambal cacat suara dalam kekuatan fraksi di Parlemen. Secara sederhana, kekuatan UKM ini efektif selain menselaraskan kebijakan dengan idea juga untuk menambal kecacatan dalam Parlemen yang kadang tidak menentu jumlah dan suaranya.
Menulis atau Mati
Publish or Perish, adalah sebuah pewacanaan di era dunia kesarjanaan. Mahasiswa khususnya sarjana ditekankan membuat karya berupa tulisan untuk dipublikasikan. Apabila tidak, maka selayakanya gelar kesarjaan patut dipertanyakan, karena pula tidak membuat tulisan bagai sebuah kematian, maka dalam potret kesarjaan untuk dianggap eksist maka selayaknya menulis menjadi jalan terbaik.
                Menulis menjadi senjata para revolusioner ketika mereka sudah dipasun kebebasanya. Muhammad Natsir, Hasan AL Bana, Tan Malaka, Che Guevara, semuanya menciptakan buku ketika kebebasan yang  dirasakan adalah Utopis dan tak mungkin terjadi. Dan hebatnya buku buku yang mereka tulis menginspirasi banyak orang. Dari tulisan itulah bisa diketahui pewacanaan yang sangat luar biasa dari tokoh tokoh itu.
                Misalnya dari komulasi tulisan Tan Malaka bisa dikatakan ia penganut Marxis revisionis atau penganut paham Tolstoy. Atau Muhammad Natsir yang berbicara tentang agama dan negara menitikbertakan pada pemahaman syariat islam bisa hidup di tengah tengah masyarakat Indonesia. Beda dengan Bung Karno yang mengkomulasi Komunis, Nasionalis, dan agama dalam satu wadah. Intinya dari sebuah tulisan pewacanaan seseorang bisa dibaca, ia akan apa dan akan kemana.
                Dari prolog ini saya hanya bisa menyampaikan gagasan, kritik, saran dan pendapat untuk KAMMI sendiri. Pertama, ketika kita harus sadar kita ada dalam kungkungan “moncong oligarki” (meminjam istilah Irfan Anshori). Tekanan politis dan hal lainya menjadi barang yang lumrah, apalagi secara logistik politik kurang menjamin dan mendukung. Menulis menjadi kartu truf ketika hal hal itu terjadi, bisa menjadi sebuah refleksi, daya kritis, lontar penalaran, atau somasi secara eksplisit.
                Kedua, dengan menulis pencitraan yang bisa dilakukan akan lebih maksimal. Utamanya lewat media massa, baik dalam jangkaun kampus maupun regional. Hal ini tidak mungkin dilarang oleh siapapun di era reformasi kini. Cara pencitraan lewat karya tentu tidak begitu beresiko dibanding Iklan diri di mading kampus yang kadang hanya seumuran jagung.
                Ketiga, pencitraan yang dilakukan selain menguatkan citra secara formal (bentuk) juga menjadi tanda (sign) bahwa pewacanaan yang kita tanamkan telah sampai mana. Alhasil bergaining position yang dilakukan lewat karya ini bisa membuktikan, Ini Lho Wacana KAMMI, ini Lho tujuan KAMMI. Sehingga orang awam mengenal KAMMI tidak hanya lewat aksi di jalanan, lihatlah kader KAMMI bisa menulis dan berkarya.
                Terakhir dari pesan ini semoga, tulisan tulisan anda semua dalam waktu dekat bisa menelurkan sebuah karya dalam berbagai media massa. Saya kira ini era reformasi, mirislah kita kalau hanya menggunakan sarana sarana (mis. FB, Twitter, Blog, dll) hanya untuk meratap dan melemahkan diri. Ada banyak hal yang belum digali dari proses Simulacra didalam pemanfaatn sarana tersebut.
***
                Dalam akar Filsafat Barat, Paham Kosmologi adalah ajaran yang berkembang sebelum manusia mengenal Teologi dan Anthropologi. Filsafat ini mendasarkan pada pendekatan empiris terhadap alam alam disekitarnya. Hingga pola interaksi antar alam dan manusia terbentuk. Gerimis sebagai bagian dari fenomena alam, siang itu yang telah memberi kabar dan cerita. Entah sebenarnya apa yang terjadi. C.G Jung, Seorang Psikoanalisa dari Swiis mengaitkan interaksi dan sinkronisasi antar manusia dengan yang lainya terstruktur atas suatu “Kebetulan”. Mungkin spekulan, kebetulan saja, gerimis siang itu memberi sebuah kabar dan cerita.

Ditulis  5 November 2013.