Tampilkan postingan dengan label Hedonisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hedonisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Oktober 2014

Jaket, Citra, dan Imajinasi

Pemilu tahun ini sempat dihebohkan dengan politik pencitraan. Ulah pemain politik yang berselingkuh dengan media, menjadi jamak dilakukan untuk mengangkat nama baik dan mengangkut suara yang gemuk. Politik Pencitraan adalah strategi beken, ketika mereka kaya akan dosa dan miskin amal. Namun dewasa ini, agaknya pencitraan menjadi hal yang klise. Standar hidup mulai memaksa untuk mengeksploitasi penampilan. Kehidupan pencitraan mulai mengetuk kehidupan mahasiswa yang bergiat mencari identitas.

Jaket dan Citra 
Pada awalnya, Jaket  adalah  pengusir hawa dingin.Mayoritas Pengguna jaket bisa kita lihat misalnya di daerah pegunungan yang berhawa dingin. Di perkotaan yang berhawa panas dan bising, jaket lebih berfungsi sebagai teman berkendara dan pelindung terik matahari. Meski demikian, hari ini jaket menjadi komoditi berharga, preferensi pengguna jaket hari bukan dari nilai guna, namun lebih memperhatikan nilai tanda.
Kisah ini bisa kita temui pada keakraban mahasiswa dan jaket. Khususnya aktivis kampus. Dalam keseharian, Aktivis kampus lekat dengan jaket yang bertuliskan nama organisasi dan slogan idealisnya. Tulisan ini memilki peran yang lebih penting dari wujud jaket itu sendiri. 
Seringkali, dengan jaket inilah ia berjalan angkuh membelah kerumunan mahasiswa yang ia sebut kupu kupu. Tak jarang, ia menenteng tas ransel dengan satu bahu, (mungkin) agar khalayak melihat sepintas tulisan di belakang jaket. Tulisan semacam Intelektual Profetik, Cerdas Kritis profetik, maupun Dinamik kontributif, dan diksi lain yang digabungkan,  terpajang di belakang jaket para aktivis. Mereka seperti hendak mengklaim ialah manusia dengan sejuta agenda untuk bangsa. Agar mahasiswa yang ia sebut kupu-kupu merasa terkutuk tidak berbaur dengan kehidupan aktivis.
Jaket dan sebaris tulisanya adalah sebuah representasi organisasi dan sejumlah perangkatnya, termasuk sejarah, peran, ideologi, tokoh, cita-cita maupun narasi besarnya. Pengguna jaket tidak hanya terlindung dari hawa dingin dan sengatan panas, namun ia adalah representasi dari perangkat perangkat organisasi. Misal Gerakan Mahsiswa KAMMI, si pemakai Jaket KAMMI seperti hendak pemberi pesan kepada khalayak, dialah trah Fahri hamzah, negarawan yang kritis, ataupun pemikir kritis yang santun.
Namun, hal semacam jalan pintas ini ternyata kontraproduktif dengan kenyataan. Gelaran forum dan diskusi seringkali aman dari buku, makalah, maupun perdebatan ilmiah. Forum diskusi yang diklaim sebagai agenda intelektual kerap serupa dengan piknik, penuh hiburan dan variasi jenis makanan. Pertanyaan yang muncul hanya berjenis” solusi apa” dan “apa yang harus dilakukan”. Hal klise ini sangat tabu (dan memalukan) bagi seorang Intelektual. Intelektual dilahirkan sebagai solusi atas permasalahan yang kompleks. Kebingungan akan solusi menjadi sebuah refleksi, kehidupan Intelektual kini defisit berfikir dan kontemplasi.
Fenomena Jaket hari ini, telah masuk kedalam ruang Simulakrum. Ruang dimana kenyataan adalah tiruan, rekaan, citra maupun kepalsuan. Kenyataan ini (pemakaian jaket) adalah kenyataan yang ringkih dan miskin akan makna. Pemakaian Jaket adalah upaya hipokrit aktivis kampus, agar terlihat meyakinkan sebagai intelektual, meski kenyataan berbicara sebaliknya. Jaket menjelma menjadi ajang pencitraan untuk menutupi realitas palsu sebagai intelektual. Dengan demikian, sangat lucu beberapa bulan yang lalu, mahasiswa membabi buta mengahabisi salah satu capres yang dianggap pencitraan, lantas mereka sendiri alpa telah melakukan pencitraan dengan jaket jaketnya. 
Heidegger sebagaimana dikutip Yasraf (1999), menyebut citraan yang dibangun pada dasarnya  merusak eksistensi yang ada (being). Citra mereduksi peran sang ada dengan mengambil alih eksistensi sang ada. Sang ada meleburkan diri dalam citraan, sehingga batas citraan dan sang ada menjadi kabur. Sehingga realitas kini tidak lebih citraan citraan yang palsu. Citra membuat sang ada teralienasi dari diri sendiri. Hari ini kapitalis Berjaya, hari ini anggota organisasi terus berlomba, mengenakan jaket sebagai simbol pencitraan.

Gagasan Iamjinatif
Jaket sebagai batas Aktivis dan non aktivis, kini mulai lebur ketika aktivis yang mengklaim sebagai Intelektual mulai mandul melahirkan gagasan gagasan akbar. Ratusan Definisi tentang Intelektual, tidak satupun yang memberi jarak antara Intelektual dan gagasan. Dan tak ada satupun yang menganggap Intelektual selalu surplus dengan pencitraan. 
Negara ini pun diperjuangkan tidak hanya dengan kucuran darah dan tajamnya bamboo runcing, namun juga keberanian membuat gagasan akbar. Tahun 1925, Tan Malaka menulis Naar De Republiek Indonesia (menuju republic Indonesia), Ia lantang berimajinasi tentang Indonesia yang merdeka, meskipun cukup utopis kala itu. Tidak lama, Bung Hatta pun menulis Indonesia Merdeka (Indonesia Vriej) sebagai Pledoi di Den Haag (1928). Muhammad Yamin menyebut, mereka mengimajinasikan kemerdekaan bangsnya, jauh sebelum kata merdeka itu tercapai.
Hari ini mereka yang mengaku aktivis, kader, maupun anggota organisasi alpa bercermin dan cukup ahistoris. Gagasan gagasan cerdas semakin ditekan, disingkirkan, ditabukan, bahkan dimusnahkan. Sedang pencitraan setiap waktunya terus digincu untuk menghilangkan kesan kepalsuan kebodohan dan ketidaktahuan. 

Jumat, 01 November 2013

Pemuda dalam degradasi wacana & Epicurianism


Tepat beberapa minggu yang lalu, sebuah drama kolosal media mengemuka. Dua perusahaan Pers besar di indonesia membuat tema edisi khusus tokoh pemuda bersama prestasinya. Sorotan dalam dua media tadi, menjadi sebuah tanda tersendiri, bahwa era pemuda belumlah berakhir.
Sambutan ini memang tidak lepas dari agenda peringatan sumpah pemuda yang diucapkan hampir seabad lalu. Ketika para pemuda bersatu mengucapkan janji mereka untuk satu visi memerdekakan Indonesia. Peringatanya pun dimeriahkan dengan orasi mahasiswa di berbagai penjuru Nusantara.
Merdeka.com
                Namun serapah, ucap, ataupun petisi dalam seremonial sumpah pemuda lalu perlu direkontsruksi dan ditinjau ulang. Sumpah pemuda intelektual hampir seabad yang lalu, terucap ketika wacana semangat anti penjajah sedang menggebu dan memuncak, kesamaan wacana inilah yang menjadi nilai substansi persatuan dan kesatuan pemuda era dulu.
                Problem di era kini tentu lebih kompleks dari masa lalu. Namun demikianlah inilah yang menjadi masalah utama, meski kita anggap tanah kita tanah surga, kita juga menganggap luar negeri adalah dongeng yang tak kalah indahnya. Tengok saja berapa banyak pemuda kita yang mengharapkan lulus dengan Ijazah Sourbone, Harvard, ataupun Yale.
                Momentum sumpah pemuda lalu untuk mengintegrasikan wacana bangsa, hanya berjalan di tataran seremonial saja. Disaat beberapa pemuda lantangnya bersatu menentang penguasa, pemuda yang lain sedang bertransaksi jabatan dengan birokrasi. Bahkan ada yang dengan bodohnya, menentang penguasa era kini tak ada gunanya.
                Memang bukan main banyaknya pemuda yang melewatkan pentingnya gagasan ataupun berdialog dalam bingkai intelektual. Pada akhirnya malah memunculkan semacam Ignorance atau kebodohan pada pemuda itu sendiri, mereka lebih memlih dunia praktis nan nikmat dengan tumbal moral. Kiblat integrasi untuk mewujudkan kemerdekaan sekarang bergeser menjadi mencari materi untuk mewujudkan kebahagiaan, meski masih banyak pemuda yang berkiblat lama.
                Jelasnya di era kini, perbedaan wacana sudah tentu berbeda metode dan tujuan yang akan dicapai. Worldview pemuda satu dengan yang lain sudah demikian jauh perbedaanya dengan era dulu. Gagasan integrasi yang menjadi wacana kaum muda intelelektual menjadi dongeng saja. Pada akhirnya Integrasi, Intelektual, dan idealis harus dipertaruhkan dihadapan kenyataan.
Budaya Epicurianisme
Epikuros (342-271 S.M.) lahir sekitar  di Samos, salah satu pulau di kepulauan Yunani. Pada 306 S.M.  Epikuros mendirikan sebuah sekolah filsafat di kota Athena yang kemudian menjadi sangat terkenal. Epicuros terkenal dengan dogmanya yang mengajarkan utnuk menghindar dari keresahan dan perasaan yang menyakitkan serta belajar menikmati kesenangan-kesenangan yang menawarkan diri. (Frans Magnis Suseno : 2013).
Singkatnya, Filsafat Epicuros mengajarkan hidup bersenang senang dan meninggalkan keadaan yang menyulitkan diri, termasuk juga ajaran ajaran dan nilai transendental, modern ini disebut pula agama. Paham Epicuros inilah yang kemudian menjadi tumbuh kembang dari paham yang dinamakan Hedonisme.
Singkatnya dalam budaya hedonisme, gerak tumbuh kapital dan individualistik adalah keniscayaan. Selain penindasan makro atas mikro entitas dalam dialektika, pengalienasian ajaran moral dan etika juga menjadi bagian dari sikap hedonism itu. Alhasil, barikade moral dan ningrat beralih dari baku ke tabu di era kekinian.
Epicurus inilah yang menjangkiti sebagian besar pemuda kita. Tiap bulan, milyaran atau trilyunan rupiah dikorbankan hanya untuk memenuhi apa itu hasrat kesenangan. Semuanya berakhir dalam segelas Wine, Sebungkus Marlboro, KFC, Casino, Gili Trawangan, atau mungkin Dolly. Klasifikasi tersier tak ubahnya menjadi sekunder, bahkan primer dalam pandangan pemuda saat ini.
Dengan pola hidup demikian bagaiamana Pemuda itu menggagas suatu wacana, bisa jadi inilah apa yang disebut Nurcholis Madjid sebagai  kritis Epistemologi.  Bahkan  paham Epicurianism tidak hanya menyerang pemuda yang tanpa wacana, mereka yang tiap hari disibukan dengan literasi, diskusi, dan aksi juga tak luput dari paham Epicurus ini.
Karena bagaimanapun wacana yang berkembang, ketika sudah terjangkit virus ini, kiblat kebenaran pun akan berpindah kepada materi. Sehingga tidak heran ada aktivis yang berpikir praktis dan pragmatis. Bagi mereka tidak ada waktu bagi untuk tidak berbicara kebejatan penguasa, dan tidak ada waktu pula untuk mentransormasikan apa yang mereka katakan, tepatnya yang tampak hanya moral dalam oral.
Pekerjaan besar pemuda era sekarang bukan hanya menggempur dosa penguasa saja. Namun, ada deviasi dalam perjalanan pemuda era kini yang berkiblat materi dengan metode praktis nan nikmat dengan tumbal moral. Merekalah yang menurut Al Ghazali, Rijalun Yadri, wa la yadri annahu yadri (orang yang tahu, tetapi tidak tahu bahwa dirinya tahu), mereka raksasa yang perlu dibangkitkan untuk menopang masa depan cerah Indonesia.